Shimla, Himalaya; Sajikan Berbagai Nuansa Wisata

Sabtu, 30 Mei 2009

Sembilan jam perjalanan nonstop dengan kereta, bukanlah pengorbanan untuk menikmati sebuah kota yang indah dan menakjubkan! Sebuah perjalanan yang memberikan begitu banyak pengalaman unik. Stasiun Kereta Old Delhi pukul 12 tengah malam. Dari stasiun ini, Howrah Kalka Mail Express akan mengantar penumpang menuju Kalka, sekitar lima jam lamanya. Saat tiba di Kalka, terasa angin pagi menusuk tulang.

Shivalik Express siap sedia mengantarkan anda melewati wilayah pegunungan menuju Shimla. Shivalik berarti rangkaian pegunungan Himalaya yang paling rendah. Shivalik Express tidak seperti kereta biasa karena bentuknya seperti kereta mainan namun tenaga supernya mampu mendaki pegunungan.

Perjalanan dengan Shivalik Express merupakan pengalaman yang sangat unik. Posisi tempat duduknya saling berhadapan dan setiap gerbong mempunyai seorang staf yang khusus menangani gerbong tersebut. Shivalik Express hanya berangkat di pagi hari dari Kalka menuju Shimla. Sepanjang perjalanan, selain dimanjakan dengan cantiknya pemandangan pegunungan, secangkir teh atau kopi panas sudah tersaji di hadapan anda. Dilengkapi menu sarapan.

Shimla adalah sebuah kota kecil yang terletak di ketinggian lebih dari 2000 meter. Sebelum mengunjungi tempat ini, pastikan dulu bahwa tubuh anda sudah siap dengan suhu udara yang dingin, bahkan sangat dingin di saat musim dingin.

Tepat pukul 12 siang, kereta pun tiba di Shimla. Seperti stasiun yang ada di daerah pariwisata umumnya, para pengunjung akan disambut oleh para pemandu wisata ilegal. Jadi, sebaiknya anda melakukan reservasi hotel lebih dulu, agar tidak kebingungan.

Shimla City adalah tempat yang sangat nyaman untuk berjalan kaki. Khususnya di daerah The Ridge, The Mall, dan Scandal Point. Tiga daerah ini adalah daerah non vehicle. Kebijakan ini membuat Shimla bebas polusi. Udara sangat bersih dan segar. Lagipula, dengan berjalan kaki anda akan lebih menikmati rangkaian pegunungan yang memagari kota kecil ini.

Rangkaian pegunungan yang bertingkat-tingkat dengan puncaknya adalah Pegunungan Himalaya yang tertutup salju abadi, adalah pemandangan indah yang akan anda temui. Selain itu deretan etalase toko yang berjajar sepanjang The Mall, menambah asyiknya acara "cuci mata" anda.

Di The Mall, apapun yang anda inginkan, bisa di temukan di wilayah ini. Mulai dari deretan toko pakaian hingga cafe. Tidak hanya produk lokal, melainkan juga produk import. Jika anda berjalan turun menyusuri tangga dari The Mall, maka anda akan tiba di Middle Bazaar. Meskipun tidak secantik The Mall, anda akan menemukan berbagai produk lokal seperti tas dan kaus kaki dengan harga lebih murah.

Sementara itu, di area The Ridge, anda bisa melihat sebuah gereja yang menjulang tinggi. Gereja dengan dinding berwarna kuning ini adalah gereja nomor dua tertua di India. Selain itu di wilayah The Ridge juga terdapat perpustakaan, beberapa cafe dan bar, dan bangku taman yang bisa menjadi tempat anda sekadar bersantai menikmati sinar matahari maupun sunset.

Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, Shimla City tetap "menyegarkan" mata. Pemerintah dan warga sangat menjaga keaslian bangunan yang sudah ada sejak jaman penjajahan lnggris ini. Bangunan-bangunan tua tersebut bukan hanya dalam kondisi terawat, tapi juga tetap berfungsi hingga kini.

Ada beberapa tempat menarik lainnya yang tidak terlalu jauh dari Shimla City, yaitu Viceregal Lodge and Botanical Garden (kurang lebih 5 km dari Scandal Point), Himachal State Museum (3km arah barat Scandal Point) dan Jakhu Temple di utara kota (sekitar 45 menit berjalan kaki dari Scandal Point). Bila anda ingin mengunjungi Jakhu Temple, saat yang paling tepat adalah di pagi hari, karena udara masih sangat segar dan matahari tidak terlalu terik.

Siapkan fisik anda karena perjalanan menuju Jakhu Temple membutuhkan stamina tinggi dan semangat pantang menyerah. Jalanan menuju kuil ini selalu menanjak dan sesekali mendaki bukit. Di sepanjang perjalanan, anda bisa menyaksikan ulah monyet-monyet yang bergelantungan di pepohonan.

Jakhu Temple adalah kuil yang didedikasikan untuk memuja dewa kera, Hanuman. Banyak sekali kera berkeliaran di sekitar kuil ini. Hati-hati! Karena mereka bisa tiba-tiba menjadi garang dan menyerang para pengunjung. Untungnya sebelum memasuki kuil, anda bisa menyewa tongkat untuk menghalau kera-kera tersebut.

Setibanya di kuil, anda bisa merasakan suasana yang nyaman. Ada beberapa bangku taman untuk anda duduk-duduk beristirahat sambil menghirup udara segar dari sekeliling hutan yang mengelilingi kuil. Kuil ini adalah puncak tertinggi di utara The Ridge. Dari kuil ini, kita bisa melihat pemandangan Shimla City di bagian bawah dan begitu juga dengan puncak bersalju Himalaya. (rn)

sumber : perempuan.com

READ MORE - Shimla, Himalaya; Sajikan Berbagai Nuansa Wisata

Rokan Hilir, Riau; Wisata Penuh Petualangan Eksotis

Rokan Hilir. Sebuah nama yang eksotik, seeksotik potensi wisata alam dan budayanya. Di wilayah kabupaten yang baru diresmikan pada 4 Oktober 1999 ini tidak hanya ada kota unik. Bagan Siapiapi yang dikenal sebagai penghasil ikan terbesar kedua di dunia (setelah Norwegia), tapi ternyata juga menyimpan objek-objek wisata alam yang masih 'perawan' dan mungkin tak ada duanya.

Bagan Siapiapi, ibukota Rokan Hilir, adalah kota tua yang benar-benar eksotik, dengan mayoritas penduduk Tionghoa yang memiliki berbagai tradisi budaya unik sepeti ritual go cap lak (bakar tongkang), upacara chue kau, tari liong dan barongsai, perayaan Imlek dengan taburan berjuta lampion unik, gadis-gadis tan ki yang trance di jalan-jalan menjelang ritual go cap lak, serta kelenteng-kelenteng artistik yang berdiri megah di beberapa sudut jalan.

Memasuki kota Bagan Siapiapi, terutama pada sekitar perayaan Imlek, akan terasa seperti berada di pinggiran kota Shanghai dengan jutaan lampion bergelantungan pada tiap teras rumah, pertokoan, pasar tradisional, hotel dan rumah-rumah makan, serta tali-tali yang direntangkan di sekeliling pusat keramaian. Pada malam hari, lampion-lampion itu memancarkan cahaya gemerlap bagai berjuta bintang.

Ritual bakar tongkang hanyalah salah satu daya tarik wisata Rokan Hilir. Masih banyak objek lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi di salah satu kabupaten di Provinsi Riau itu yakni wisata alam bahari. Di Rokan Hilir, anda bisa menikmati keindahan pantai dan pulau-pulau di perbatasan dengan Malaysia. Salah satu objek wisata kepulauan yang paling menarik adalah Pulau Jemur. Pulau ini terletak lebih kurang 45 mil di lepas pantai Bagan Siapiapi, dan 45 mil dari negara tetangga, Malaysia. Jadi, persis di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Pulau Jemur (lebih pas disebut Kepulauan Jemur) merupakan gugusan yang terdiri dari beberapa pulau, antara lain Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik, Sarang Elang, dan pulau-pulau kecil lainnya, seperti Batu Mandi dan Batu Berlayar. Pulau-pulau tersebut membentuk lingkaran, sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang.

Hampir tiap pulau dalam gugusan Kepulauan Jemur memiliki objek wisata yang sangat menarik. Di Pulau Labuhan Bilik misalnya, wisatawan dapat menikmati matahari terbit (sun rise) dari hamparan pantai berpasir putih yang permai. Matahari, tiap pagi, jika tidak terhalang awan, akan tampak menyembul persis di permukaan laut. Bola matahari terbit juga dapat dilihat dari teras penginapan Dinas Perikanan, dengan siluet layar-layar perahu nelayan yang berderet di mulut teluk Labuhan Bilik, persis di depan penginapan. Beberapa flora langka dan panorama tebing-tebing curam juga ada di pulau ini.

Objek-objek yang lebih menarik terdapat di Pulau Tekong Emas. Tidak hanya sun rise dan sun set yang dapat dinikmati dari pulau ini. Tapi, juga Goa Jepang, menara suar, bekas tapak kaki manusia raksasa, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, taman laut dan pantai berpasir kuning emas. ''Pulau ini juga menjadi pusat penangkaran penyu dan kawasan perlindungan satwa langka itu,'' lanjut Gamal.

Pada malam hari, wisatawan dapat mengintip penyu yang sedang bertelur. Sedangkan pada siang hari, pengunjung dapat melihat ratusan telur penyu yang sedang ditangkar dan penyu-penyu kecil hasil penangkaran yang berenang-renang lucu di kolam besar untuk siap dilepas ke laut setelah berusia 6-8 bulan. ''Pengunjung bisa mencoba melepas anak-anak penyu ke laut, atau mencicipi telur rebusnya,'' kata Komandan Pos AL Pulau Jemur, Letda AL Yudiono.

Objek-objek lain yang menarik untuk dikunjungi adalah kota di atas laut, Panipahan, Pulau Halang, Danau Napangga, Batu Belah Batu Bertangkup, Pulau Tilan, Bono Sungai Rokan, dan Desa Rantau Bais.

Panipahan dikenal sebagai kota nelayan di atas laut, dengan jalan raya yang terbuat dari pelancar kayu. Di atas balok-balok kayu yang ditata rapi itu kendaraan bermotor dan pejalan kaki hilir-mudik ke tujuan. Kota berpenduduk 12.459 jiwa ini dikenal sebagai penghasil rotan, kopra basah dan ikan laut (udang dan ikan besar) yang diekspor ke Singapura serta Malaysia.

Peminat wisata budaya, selain ke Bagan Siapiapi, juga dapat mampir ke Desa Rantau Bais yang masih alami dan nyaris belum terpengaruh budaya asing. Desa yang terletak tidak jauh dari jalan raya lintas Pekanbaru-Medan ini memiliki panorama alam yang indah, serta budaya dan adat istiadat yang unik. Rumah-rumah tua berarsitektur Melayu tradisional juga masih mendominasi desa ini. Selain menjadi andalan Kabupaten Rokan Hilir, pengembangan objek-objek wisata alam dan budaya di atas juga akan menjadi andalan Provinsi Riau yang selama ini cenderung kurang memperhatikan potensi wisatanya. (rn)

sumber : perempuan.com

READ MORE - Rokan Hilir, Riau; Wisata Penuh Petualangan Eksotis

Kungkungan, Sulut; Nikmati Keindahan Bawah Laut

Bagi masyarakat Indonesia, Kungkungan Bay Resort bisa jadi kalah kondang dibanding Taman Nasional Bunaken sebagai tempat wisata bahari di Sulawesi Utara (Sulut). Namun di mata turis mancanegara, Kungkungan menjadi salah satu tempat wisata bawah laut favorit yang wajib dikunjungi. Maka, tidak heran jika pengunjung Kungkungan lebih didominasi turis asing ketimbang wisatawan Nusantara.

Kungkungan tak terlalu sulit dicapai. Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari Kota Manado anda harus terlebih dahulu menuju Kota Bitung. Perjalanan Manado-Bitung ini butuh waktu sekitar dua jam. Sesampainya di Bitung, perjalanan selama 20 menit berikutnya dilakukan dengan menyusuri jalan terjal berliku menuju Selat Lembeh, tempat Kungkungan berada.

Perjalanan jauh dan berliku pasti akan membuat badan terasa lelah dan letih. Namun jangan kaget, begitu anda menapaki pasir dengan mata tertuju pada air laut yang kehijauan di sekitar Kungkungan, punahlah rasa lelah dan letih itu.

Untuk pelancong yang baru saja tiba, petugas resor biasanya akan membagikan roti tawar. Jangan salah, roti tersebut bukan untuk cemilan selamat datang, tapi untuk umpan ikan-ikan laut. Kerumunan ikan warna-warni yang berebut remah-remah roti dari pengunjung merupakan pemandangan khas Kungkungan yang konon tak dimiliki resor lain.

Air laut Kungkungan nyaris tak berombak, lantaran letak geografisnya yang berada di bawah bukit. Selain itu, Kungkungan juga diapit dua pulau kecil: Pulau Lembe dan Pulau Serena, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai. Air laut yang tenang dan jernih itu memungkinkan pengunjung mengamati ekosistem laut seperti bintang laut biru, ikan ekor kuning, atau ikan julung-julung dengan mata telanjang.

Luas lahan Kungkungan sendiri hanya sekitar empat haktare. Didirikan sekitar tahun 1995 atas kerja sama swasta dengan Pemkot Bitung, Kungkungan dibangun dengan tujuan wisata diving dan snorkeling. Untuk menciptakan kesan private, pengelola sengaja hanya membangun 17 bungalow yang semuanya menghadap ke laut.

''Karena tempat terbatas, para turis biasanya sudah booking dari jauh hari,'' kata Asisten Manajer Kungkungan Bay Resort, Rustam Talengkera. Menurut Rustam, minat wisatawan mancanegara untuk merasakan keindahan panorama Kungkungan sangat tinggi.

Hal tersebut dibuktikan dengan tingkat hunian bungalow yang selalu full booked sepanjang tahun. Bahkan, untuk memastikan bisa menyelam di sekitar Kungkungan, lanjut Rustam, pernah ada turis yang mem-booking kamar dua tahun sebelumnya dengan sistem pembayaran penuh di muka.

Soal tarif berwisata di Kungkungan, lanjut Rustam, sebanding dengan fasilitas wisata yang disajikan. Untuk turis domestik, harga sewa bungalow antara Rp 700 ribu sampai Rp 900 ribu per hari. Sementara untuk turis asing, harga bisa dua kali lipat lebih mahal dengan kurs dolar AS. Jika ingin menyelam, pengunjung akan dikenakan biaya Rp 180 ribu per jam. Sementara tarif snorkeling, Rp 120 ribu per jam.

Di perairan Kungkungan, sedikitnya terdapat 38 titik selam dengan kedalaman 12 hingga 15 meter. Ketika menyelam di Kungkungan, anda akan menyelam bersama instruktur profesional dari Eco Divers. Para instruktur juga merangkap sebagai juru foto untuk memastikan wisata bawah laut anda terabadikan. Demi kenyamanan menyelam, setiap kelompok dibatasi hanya empat orang penyelam untuk tiap satu instruktur.

Beragam ikan laut dan gugusan karang yang indah merupakan panorama khas bawah laut Kungkungan. Bahkan jika beruntung, saat menyelam anda bisa bertemu spesies langka seperti kuda laut kerdil, ikan katak berbulu lebat, ikan kalajengking ambon, hingga ikan pipa kembang. Selesai menyelam, anda bisa kembali ke resor untuk mandi air hangat atau sekadar berenang di kolam renang mini.

Ketika perut terasa lapar, anda bisa menyambangi restoran a la carte yang buka 24 jam dengan menu masakan Barat dan tradisional Indonesia. Jika masih ingin dimanjakan, terapi pijat tradisional Indonesia bisa anda coba. Jangan khawatir, para pemijatnya berpengalaman. ''Saat ini kami juga sedang membangun fasilitas spa untuk melengkapi kenyamanan pengunjung,'' tambah Rustam. (rn)

sumber : perempuan.com

READ MORE - Kungkungan, Sulut; Nikmati Keindahan Bawah Laut

Purwakarta, Jabar; Mengenal Lebih Dekat Bendungan Jatiluhur

Ketika Ir H Djuanda menggagas pembendungan Sungai Citarum dan sungai-sungai di sekitarnya, beliau mungkin tak memikirkan apakah area di sekitar bendungan itu kelak bisa menjadi obyek wisata yang memiliki daya pikat. Waktu itu, tepatnya tahun 1957, Djuanda hanya memikirkan cara paling tepat untuk meningkatkan produksi pangan nasional melalui sumber irigasi yang memadai.

Gagasan itu pun terwujud sepuluh tahun kemudian, ketika proyek pembangunan bendungan yang dikenal dengan nama Proyek Serbaguna Jatiluhur -- meliputi waduk, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan sarana sistem pengairan -- rampung. Tak kurang dari 74 sungai dan anak-anak sungainya akhirnya menjadi satu kesatuan hidrologis di Jatiluhur.

Dalam perkembangannya, bendungan Jatiluhur pun menjelma menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Barat dengan obyek utama berupa danau buatan yang sangat luas (8.300 hektar). Obyek ini masih ditambah dengan pemandangan alam yang indah dipadu dengan karya teknik hidrolis (ilmiah) berupa bendungan raksasa dan PLTA.

Dengan area seluas itu, Jatiluhur bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk berwisata dan melakukan berbagai aktivitas olahraga di alam terbuka. Udara segar yang terhirup saat berjalan di alam hijau yang masih dialiri Sungai Citarum serta kicauan burung yang tiada henti bisa membuat siapa saja berleha-leha sejenak melepas kepenatan kota.

Dari sisi bendungan raksasa, sekitar setengah kilometer dari pandangan mata, berdiri kokoh sebuah bukit yang separuhnya telah terpangkas. Batu di puncak bukit itu digunakan untuk melandaikan kemiringan bendungan. Di bawah bukit, di semua sisi danau, terdapat permukiman yang dihuni penduduk semipermanen. ''Mereka dulunya merupakan para penjaga di area ini yang lalu beranak-pinak dan berkembang menjadi sebuah komunitas dusun,'' kata salah seorang pegawai di lingkungan PJT II.

Para pengunjung yang belum puas hanya dengan berjalan-jalan, masih memiliki kesempatan mengelilingi danau seluas 8.300 hektar itu dengan perahu motor maupun perahu dayung yang bisa dikayuh sendiri. Ingin bergerak lebih cepat? Sewalah jetski, fasilitas yang juga sudah tersedia.

Para penunjung yang datang berombongan dalam jumlah besar pun tak perlu khawatir untuk mengarungi danau. Di sini tersedia pula kapal pesiar dengan kapasitas minimal 20 orang yang siap mengantar rombongan mengelilingi danau berair jernih itu. Cuma ada syaratnya, setiap orang harus siap-siap merogoh kocek sekitar Rp 12.500 untuk menaiki kapal.

Keluarga yang gemar memancing pun tak perlu cemas untuk mencari lokasi nyaman. Di sana juga terdapat sarana memancing beragam jenis ikan tawar yang dapat memberikan keasyikan dan ketenangan tersendiri. Dengan perahu motor, anak-anak juga bisa dibawa mengunjungi pulau di tengah waduk Jatiluhur. Mereka bisa bermain sepuasnya di taman bermain. Sesuatu yang tentu akan menyenangkan mereka.

Setelah lelah menikmati keindahan alam terbuka, pengunjung yang masih ingin menikmati panorama Jatiluhur tak perlu buru-buru pulang. Di Jatiluhur tersedia akomodasi dan fasilitas yang memadai untuk menginap. Lokasi penginapan yang baru selesai dipugar, yakni Jatiluhur Hotel & Resort siap menyambut kehadiran siapa saja.

Di penginapan ini tersedia paket-paket yang dirancang sesuai kebutuhan pengunjung. Hotel dengan kapasitas 24 kamar yang dapat dipilih, di antaranya dua buah kamar suite room, dilengkapi bar, restoran, dan ruang pertemuan dengan fasilitas ruang rapat. Ada juga bungalow sebanyak 25 kamar dilengkapi dengan AC yang siap menyejukkan perasaan. Sewa kamar hotel rata-rata Rp 200 ribu per malam. Sedang untuk bungalow rata-rata Rp 400 ribu per malam.

Pelatihan inbound maupun outbound juga bisa dilaksanakan di tempat itu. Kegiatan outbound melalui aktivitas team building akan menumbuhkan kepakaan antarpribadi yang efektif bagi penggalangan team work yang sinergis dan terpadu.

Tak hanya itu, Gedung Serba Guna Garha Vidya Jatiluhur juga didirikan untuk beragam acara, misalnya ruang pertemuan, resepsi pernikahan, seminar, maupun lokakarya. Ruang utama gedung ini memiliki luas sekitar 700 meter persegi, dengan kapasitas antara 125 sampai 400 kursi. Ada juga ruang untuk pertemuan mini dengan kapasitas 20 sampai 30 orang.

Namun jika kantong di celana cekak, wisatawan tak perlu khawatir. Masih ada alternatif lain untuk bermalam. Asal memiliki tenda, siapa pun bisa berkemah di bumi perkemahan yang juga disediakan di lokasi sekitar danau. Hemat dan penuh tantangan, apalagi bagi pelancong yang masih muda atau berjiwa muda. Lokasi ini juga sering digunakan anggota pramuka untuk melakukan aktivitas kepanduannya.

Ketika hari menjelang malam, perut yang keroncongan bisa terpuaskan dengan berbagai makanan yang dijajakan di pinggir danau. Lokasi wisata bendungan Jatiluhur tentu bisa menjadi alternatif untuk berlibur. Khusus bagi warga Jakarta, lokasi Jatiluhur tidaklah terlampau jauh. Jaraknya dari Jakarta hanya 120 kilometer dan bisa ditempuh hanya dua jam perjalanan. Pengendara mobil pribadi dapat memanfaatkan Tol Jakarta-Cikampek. Selepas gerbang tol Cikampek, belokkan saja kendaraan ke arah kanan, menyusuri jalan provinsi. Tak lebih dari lima belas menit Anda akan tiba di area bendungan. (rn)

sumber : perempuan.com

READ MORE - Purwakarta, Jabar; Mengenal Lebih Dekat Bendungan Jatiluhur

Wisata Angker di Lawang Sewu

Jumat, 29 Mei 2009

Saya perhatikan untuk Koki - Tour hampir semua artikelnya adalah tentang pesona wisata di luar negeri mulai dari New Zealand, Singapore, Texas dan Austria. Padahal di Indonesia banyak terdapat obyek-obyek wisata menarik dan unik yang saya yakin akan sulit ditandingi oleh negara lain.

Oleh karena itu, saat ini saya mencoba berbagi cerita tentang pengalaman berwisata ke suatu obyek wisata unik yang mungkin sebagian Kokiers belum pernah berkunjung kesana. Obyek wisata ini bernama Lawang Sewu. Jika obyek-obyek wisata lain menawarkan keindahan alam berupa pantai ataupun pegunungan maka lawan sewu menawarkan sesuatu yang sangat berbeda yaitu "keangkeran"!

Apakah Lawang Sewu ?

Sebagian Kokiers mungkin bertanya tanya "mahluk" apakah lawang sewu itu?. Lawang sewu adalah sebuah gedung tua peninggalan Belanda yang terletak di kota Semarang Jawa Tengah. Gedung ini terletak tepat di bundaran Tugu Muda yang dahulu dikenal dengan nama Wilhelmina Plein.

Mengapa disebut Lawang Sewu?

Lawang sewu berasal dari dua kata bahasa Jawa yaitu : Lawang yang berarti Pintu dan Sewu yang bermakna seribu. Jadi Lawang sewu adalah gedung yang mempunyai jumlah pintu seribu buah. Walaupun secara kenyataan jumlah pintu yang ada tidak mencapai seribu buah (saya tidak menghitungnya hehe) tetapi karena gedung ini memiliki jumlah pintu yang banyak dan besar maka penduduk setempat memberikan nama lawan sewu.

Sejarah Lawang Sewu

Dari penjelasan yang saya dapatkan dari pemandu wisata disana, lawang sewu dibangun pada sekitar tahun 1903 dan pada masa pemerintahan Belanda gedung berlantai dua dan mempunyai ruang bawah tanah ini berfungsi sebagai kantor dari NIS (Nederlansch Indishe Spoorweg Naatschap). Sisa peninggalan Belanda yang masih terlihat jelas pada lawang sewu adalah ornamen khas eropa yang terdapat pada jendela besar di dalam gedung.

Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia pada sekitar tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya merupakan saluran pembuangan air di "sulap" menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan penjajah Jepang yang terkenal dengan pertempuran lima hari. Sisa pertempuran ini masih terlihat dari bekas tembakan di salah satu tiang penyangga gedung ini.

Setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa Indonesia, gedung ini dipakai sebagai kantor oleh Perusahaan kereta api Indonesia atau KAI.

Penjara Jongkok

Pada kesempatan itu juga saya menyempatkan diri masuk ke dalam ruang bawah yang oleh Jepang di gunakan sebagai penjara. Karena ruangannya yang sangat sempit dan atapnya rendah penjara-penjara ini dinamakan sebagai penjara jongkok. Sumber cahaya yang sangat minim dan kondisi ruangan yang lembab membuat suasana di dalam penjara jongkok ini cukup membuat merinding bulu kuduk. Pemandu wisata juga menjelaskan bahwa ruang bawah tanah ini sering dipakai sebagai tempat eksekusi para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Jepang dan jasad-jasad mereka dibuang ke kali yang terletak di sebelah gedung ini.

Wisata Angker

Saat ini, Lawang sewu di kenal oleh penduduk setempat sebagai gedung yang angker dan konon sering terlihat mahluk halus pada malam hari. Menurut saya dari sudut pandang pariwisata, kesan tersebut sebenarnya merupakan peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan baik lokal maupun asing khususnya mereka yang menyukai tantangan berbau mistis dan angker. Saya yakin apabila potensi ini dioptimalkan maka akan lebih banyak wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia dan tentunya tambahan devisa bagi negara ini.

Jadi siapkah Kokiers untuk mencoba wisata angker di Lawang Sewu??

Penulis : Mohammad Ramadhani - Jakarta
Sumber : Kompascommunity.com
READ MORE - Wisata Angker di Lawang Sewu

Robok-Robok, Aset Wisata Budaya Mempawah

Perahu bermuatan pangeran ratu melaju tenang diatas permukaan air Sungai Mempawah. Perahu lancang kuning yang tersohor itu bertolak dari Keraton Amantubillah. Setibanya di muara, seorang punggawa keraton mengumandangkan azan. Selepas itu, putra mahkota dan punggawanya membuang sesajain ke laut sebagai talak bala. Begitulah inti kegiatan robok-robok yang berlangsung di Kuala Mempawah, pertengahan Maret lalu. Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong memadati lapangan di tepi Sungai Mempawah, sekitar 200 meter dari muara. Menjelang siang pengunjung yang datang semakin membludak. Bukan cuma warga Kuala Mempawah, tapi juga hanyak yang datang dari berbagai kampung di Kabupaten Pontianak. Bahkan tak sedikit warga Kota Pontianak yang sengaja datang dengan menempuh perjalanan darat sekitar 2 jam.

Sejumlah pasangan muda-mudi datang menggunakan sepeda motor. Beberapa keluarga menggunakan mobil pribadi. Ada juga beberapa rombongan yang datang menggunakan mobil bak terbuka dan truk. Alhasil, sekitar 200 meter dari mulut jalan menuju lokasi terjadi kemacetan. Terlebih di sepanjang jalan menuju lapangan terdapat kios-kios para pedagang yang menjajakan berbagai produk, seperti pakaian, makanan, minuman, aksesoris, vcd, dan sebagainya.

Kendati hari itu cuaca begitu panas, matahari bersinar terik, namun tak mengendurkan niat orang untuk datang. Tujuan mereka satu, ingin menyaksikan robok-robok sekaligus berbelanja dan menikmati hiburan gratis. Beberapa turis asing pun nampak di antara ratusan pengunjung lokal.

Di lapangan, sejumlah tamu sudah menempati kursi-kursi beratap tenda besar yang menghadap sungai. Pengunjung yang tidak kedapatan kursi berdiri di bibir sungai. Tak lama kemudian perahu kuning yang membawa rombongan Pangeran Ratu dari Istana Amantubillah, DR Ir. Martian Adijaya Kesuma Ibrahim, MSc melaju di atas permukaan air Sungai Mempawah, sekitar 20 meter dari tempat para tamu duduk. Ketika memasuki Muara Mempawah, Pangeran Ratu dijemput oleh putra mahkota dan sejumlah punggawa keraton dengan menaiki perahu lancang kuning.

Di Muara Mempawah, seorang punggawa keraton mengumandangkan azan dari atas perahu. Selepas itu, putra mahkota melakukan ritual buang-buang sesaji ke laut sebagai talak bala. Selanjutnya, Pangeran Ratu dan permaisuri mendatangi para undangan, sedangkan putra mahkota kembali ke keraton.

Perayaan tradisi robok-rohok kali ini agak berbeda, lebih istimewa daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini, perayaan yang dipusatkan di Sungai Mempawah dihadiri Raja dan Ratu serta perwakilan dari sejumlah keraton di Indonesia yang tengah mengikuti Festival Keraton Nusantara II. Mereka menjadi tamu spesial yang disertakan melihat langsung perayaan tradisi robok-robok.

Selepas acara seremonial pembukaan Pagelaran Seni Budaya Keraton Nusantara II dan Festival Seni Budaya Melayu IV se-Kalbar, para undangan dihibur dengan persembahan tari-tarian khas Kal-Bar. Ada tarian anging mamiri, khas Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Kemudian tarian selamat datang khas Melayu yang dibawakan beberapa penari perempuan dengan mengenakan pakaian berwarna kuning. Dan dilanjutkan dengan tarian 6 gadis cilik yang sempat mencuri perhatian undangan.

Usai pembacaan doa penutup, para raja, ratu dan undangan dijamu oleh Pangeran Ratu makan siang di Istana Amantubillah. Prosesi makan siang ini menggunakan tradisi saprahan atau makan bersama khas masyarakat yang tinggal di pesisir. "Dahulu ketika Opu datang di Memawah belum ada rumah. Mereka kemudian duduk dan makan bersama di tepi sungai beratap langit. Tradisi ini kemudian dilakukan masyarakat Mempawah secara turun temurun," tandas Pangeran Ratu Mardan. Usai bersantap, beberapa undangan melakukan ziarah ke makam Ompu Daeng Manambon.

Makna Harmonis

Makna perayaan tradisi robok-robok menurut Pangeran Ratu Mardan sebagai napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon. "Ketika itu para pengikut Opu Daeng Manambon, terdiri atas berbagai etnis dan agama," katanya. Dengan begitu robok-robok diyakini sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar. Pesan itu merupakan warisan yang ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah.

"Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar. Bersama-sama mereka membangun Mempawah. Tadi ada makna harmonis antar etnis dan agama dibalik perayaan robok-robok ini," jelas Pangeran Ratu Mardan.

Bukti lain dari adanya keharmonisan itu, lanjut Mardan, bisa dilihat di kompleks pemakaman Opu Daeng Manambon. Di makam tersebut juga terdapt makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa, dan beberapa makam etnis lainnya.

Sedangkan Gubernur Kalbar H. Usman Jafar mengatakan robok-robok merupakan aset pariwisata Kalbar. "Peringatan robok-robok tahun ini yang disatukan dengan Festival Melayu dan Festival Keraton Nusantara memberi warna baru untuk meningkatkan seni budaya," kata Jafar.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan robok-robok yang sudah menjadi salah satu kalender wisata nasional ini menjadi hihuran gratis masyarakat. Sejumlah hiburan ditampilkan seperti kontes motor air, busana adat, qasidah, karaoke lagu daerah, hadrah, albarzanji, panjat pinang, tepuk bantal, tarik tambang, tenis meja, bola voli, sepakbola anak gawang, lomba sampan, tarian daerah, dan atraksi kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Pontianak. Kegiatan ini berlangsung di tepi Sungai Mempawah sejak pagi hingga malam hari.

Robok-robok bagi sebagian masyarakat lokal menjadi berkah tersendiri. Mereka mendulang rupiah dengan berjualan berbagai produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah pelaksanaan robok-robok.

Tips

Perayaan tradisi robok-robok berlangsung setiap tahun di Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Mudah mencapai lokasi Mempawah. Dari Bandana Supandio, Pontianak tinggal mencarter taksi atau bus travel. Waktu tempuh sekitar 2 jam.

Atau bisa dengan bus umum dari terminal Kota Pontianak menuju Kuala Mempawah. Jalan yang dilalui beraspal mulus dengan lalu lintas yang lengang. Kalau letih dan lapar, sepulang dari menyaksikan robok-robok, bisa mampir di Pondok Pengkang yang menyajikan makanan khas Melayu dan penganan pengkang atau sejenis lempar ketan.

Sumber: Majalah Travel Club
READ MORE - Robok-Robok, Aset Wisata Budaya Mempawah

Makam Imogiri Jogjakarta

Raja-raja jaman dahulu sebagian besar bersifat sentralistik, dalam segala aspek kehidupan mengacu kepada kekuasaan tunggal yaitu Sang Maharaja. Setiap Kadipaten diwajibkan memberikan upeti kepada kerajaan, jangan coba-coba menolak membayar upeti ini kalau tidak mau diserbu dan dimusnahkan. Kehidupan Sang Raja menjadi perhatian utama para kawula saat itu, hingga tempat pemakakannya pun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari waktu sang raja masih hidup.

Kemegahan dan keangkeran tampak jadi satu ketika kita melihat makam para Raja-raja Mataram di Imogiri. Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632 M oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I. Makam Imogiri terletak di sebelah selatan Jogja - kurang lebih 45 menit ke arah selatan perjalanan dengan menggunakan kendaraan sendiri, atau bisa juga ditempuh dengan minibus dari Jogja langsung sampai didepan pintu masuk makam. Makam ini terletak diatas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Memasuki tempat parkir untuk menuju pemakaman kita akan disambut oleh para Pemandu Wisata yang sudah siap mengantarkan kita. Karena merasa lapar, setelah melakukan perjalanan ke berbagai tempat kami tidak langsung masuk ke lokasi pemakaman. Kami lihat ada warung di dekat pintu masuk, sejenak kemudian kami memesan pecel dan wedang jahe. Tak disangka dan tak dinyana Pecel Ibu Widayati ini rasanya lebih enak dari SGPC ( Sego Pecel / nasi pecel ) yang ada disamping Kampus Jogjakarta. Selain itu wedang jahenya dengan campuran gula jawa, daun cengkeh tampak memberikan rasa yang khas rasa Imogiri - Jogja.

Kemudian perjalanan dilanjutkan kearah makam dengan didampingi oleh salah seorang pemandu wisata yaitu Pak Slamet. Setelah pintu masuk disebelah kiri ada bangunan masjid yang cukup megah. Masjid ini biasa digunakan untuk mensholatkan jenazah para Raja sebelum dibawa keatas bukit untuk dimakamkan. Ketika melihat keatas sempat terbayang pegalnya kaki ini yang akan menaiki tangga sejumlah 454 tangga. Malahan 454 tangga ini biasa dilalui naik turun oleh para Pemandu Wisata tiap hari 3-4 kali. Ketika ditanya,"apa tidak capai Pak Slamet,"beliau menjawab,"Insya Allah tidak karena mendapat berkah dari Sang Sultan,". Perlahan-lahan namun pasti kami menaiki tangga tersebut walaupun napas sedikit ngos-ngosan. Karena tangga-tangga tersebut berukuran lebar, kurang lebih 4 meter dan dilapisi semen beton disertai tiupan angin sore yang semilir menjadi tak terasa menaiki tangga tersebut. Setelah melewati 454 tangga kemudian kita baru masuk pintu ke II, di pintu II ini ada 3 bangsal; yang pertama adalah Bangsal Sapit Urang-bangsal yang dipergunakan oleh para abdi dalem keraton Jogja; yang kedua adalah Bangsal Hamengkubuwono untuk para Bangsawan Jogja; dan yang ketiga adalah Bangsal Pakubuwono untuk para Bangsawan dari Keraton Solo. Seperti kita ketahui bahwasannya pada masa Amangkurat V ( 1677 ) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi II, yaitu Kasunanan Pakubuwono ( Solo ) dan Kasunanan Hamengkubuwono ( Jogja ).

Memasuki tempat pemakaman masih dibagi lagi menjadi tiga bagian, makam utama; yaitu makam Sri Paduka Sultan Prabu Hanyokrokusumo, Amangkurat II, Amangkurat III beserta masing-masing satu permaisurinya. Sayap kiri terdiri dari; Pakubuwono I, Amangkurat Jawi dan Pakubuwono III. Sayap kanan terdiri dari: Ratu-ratu solo, pakubuwono III beserta selir dan permaisurinya. Namanya makam Raja, cerita-cerita seputar makam yang berbau mistis juga banyak kita dengar. Cerita mengenai kesaktian raja-raja jaman dahulu sampai tentang cerita kalau mengenai Ratu Laut Selatan. Ceritanya seperti ini, Syahdan waktu itu Panembahan Senopati ( pendiri Mataram ) bertapa di Laut Selatan seluruh laut selatan bergetar karena merasakan hawa sakti dari Panembahan. kemudian keluarlah Ratu Laut Selatan menemui Panembahan Senopati agar menghentikan pertapaannya. Karena itu, Sang ratu akan membantu kekuasaan Sang Panembahan di Tanah Jawa, dan permintaan Sang Ratu kalau seluruh raja-raja Mataram akan dijadikan suaminya, boleh percaya boleh tidak.

Menarik sekali memang kalau kita menengok sejarah masa lalu, apalagi kalau yang menyangkut harta, tahta dan wanita. demikian juga makam Imogiri yang dapat memberikan gambaran kepada kita semua tentang Raja-Raja Mataram zaman dulu sampai sekarang. Salah satu rahasia umum para Raja dan Penguasa zaman dulu adalah jumlah istri dan selir yang mencapai puluhan. Namun hukum-hukum dan peraturan kerajaan yang ada sekarang tentunya sudah disesuaikan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Penulis : Agung
Lokasi : Imogiri, Bantul
Fotografer : AMGD
Sumber : Navigasi.Net
READ MORE - Makam Imogiri Jogjakarta

Pesona Hutan Hulu Kelay, Berau

Sungai jernih. Air kehijauan memantulkan batu-batu bulat di dasarnya. Gemericiknya yang konstan menjadi musik yang tiada henti. Titik-titik gerimis menyapa dedaunan di pagi hari. Beberapa burung berkicau menyambut pagi. Mendung berwarna putih menguasai langit tak hendak berbagi dengan mentari. Kabut datang pergi dari arah hulu sungai menuju kampung. Burung rangkong mencakung di atas dahan mati yang terbawa arus dari atas. Dia berdiam waspada.
Tiba-tiba dijulurkannya paruhnya yang panjang dan kuat. Seekor ikan yang kurang waspada telah berpindah ke dalam paruhnya. Melintang, menggelepar dan sesaat kemudian diam. Burung itupun terbang berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Pohon dipteriocarpa yang sedang berbunga merah menjadi tempat bersantap sarapan paginya.

Kampung masih sepi. Belum banyak lelaki yang keluar rumah. Hanya ada beberapa ibu yang menggendong anak menuju ke sungai. Dapur di semua rumah sudah mengepulkan asap.

”Jadi berangkat Pak?”
”Ya Pak Nikko, tidak apa-apa kan?”
”Tidak Pak, namun apa tidak sebaiknya menunggu hujan berhenti?”
”Mereka sudah menunggu di atas Pak. Jadi kita berangkat saja ya...”

Nikko segera menata barang-barang kami. Dua buah ransel berisi pakaian, sleeping bag, dan kelambu. Semua barang tersebut dibungkusnya dengan terpal supaya tidak basah oleh hujan. Setelah jas hujan kukenakan, akupun masuk ke ketinting. Aku mengambil tempat duduk diantara gundukan barang dan jerigen bensin cadangan yang berada tepat di depan Nikko. ”Tidak pakai payung Pak?” ”Tidak perlu Pak Niko.” ”Nanti Bapak basah.” ”Tidak, jas hujan ini sudah cukup. Ayo berangkat.”

Jam menunjukkan 05.30. Kami menyusuri Sungai Kelay. Sungai ini bercabang-cabang di hulunya. Dari masing-masing bukit menyumbang satu anak sungai, sehingga ketika bergabung menjadi sungai yang cukup besar. Dari hulu di atas bukit, Sungai Kelay mengalir membawa hidup menuju ke Kota Tanjung Redeb dan berakhir di Laut Sulawesi. Gerimis menemani kami sepanjang perjalanan. Mentari mencoba menyapa kami, namun kabut menghalangi. Sesekali mentari berhasil menyapa kami. Saat yang sama kabut segera menelikung dan mengungkung matahari di peraduannya. Satu dua burung rangkong dan burung pelatuk kepala merah menyeberang sungai. Mereka terkejut dengan suara mesin ketinting yang meraung. Dinding batu di tepi sungai memantulkan suara mesin menjadi seperti chainsaw, sedangkan reriungan pepohonan memantulkan suara mesin kami lebih lembut. Pantulan suara itu silih berganti tergantung pada tepi mana kami mengambil arus. Dengan ketinggian air yang kecil, Nikko tidak mengalami kesulitan dalam mengendalikan kentinting kami.

Tetes-tetes hujan mulai menggangguku. Mereka berlomba berloncatan dari tepi jas hujan ke kacamataku. Dari kacamata mereka melompat ke pipi dan meluncur ke bibirku. Satu berhasil dan menyusul yang lainnya. Beberapa kali aku seka kacamataku. Namun jelas tak mungkin melarang butir-butir air tersebut bermain di wajahku. Ketika anak-anak mereka berhasil bermain-main, tanpa segan induk mereka juga ikut nimbrung. Mereka membuat ulah yang lebih menjengkelkan. Sebab mereka tidak hanya berloncatan, melainkan meluncur langsung dari ujung jas hujan menuju ke mata, turun ke pipi dan memaksa masuk ke dalam mulut. Kini aku yang dibuat jengkel. Ku copot kacamataku. Ku seka mataku untuk menyingkirkan bandot-bandot tersebut dari wajahku. Namun, begitu kacamata kupasang, bandot-bandot tersebut langsung saja meluncur dari tepi jas hujan dan membobol alis menyerang bulu mataku, meluncur ke pipi dan memaksa membuka bibirku. Sementara anak-anak mereka tetap saja bermain lompat-lompatan dari jas hujan ke kacamataku. Sampai akhirnya kabut tak lagi kuat menahan mentari. Sapaan sang surya pagi membuat semua cerah. Kabut yang menyelimuti bukit pelahan pergi. Mereka malu telah menahan kodrat, bahwa mentari mesti membawa pagi. Satu demi satu mereka menghilang entah kemana. Suasana menjadi lebih ceria ketika hujan pun reda.

Burung-burung mulai sibuk saling menyapa. Anak-anak mereka berlomba berteriak memaksa induknya segera terbang mencari sarapan pagi. Serangga-serangga yang kepagian berkelimpungan tak tahu jalan pulang. Beruntung bagi burung dan celaka bagi serangga. Serangga yang tersesat menjadi sarapan pagi anak-anak burung yang tak henti-henti berteriak.

Buah hutan, lintah dan pemampat darah

Tak berapa lama kami menyusuri sungai ke arah hulu, Nikko, supir ketinting kami menepi. ’Kita cari durian dulu. Disini ada pohon durian yang rasanya enak’ demikian Nikko memberi alasan mengapa ia menghentikan ketintingnya. Dua ketinting lain yang berada di belakang kami, yang membawa anggota rombongan yang lain juga berhenti. Kami berempat segera menyusul Nikko mendaki tebing sungai. Sementara anggota rombongan lainnya menunggu di tepi sungai. Setelah menyibak-nyibak perdu yang cukup tebal, kami mendapatkan tiga buah lahong dan sebuah durian. Lahong adalah sejenis durian. Warnanya merah ungu, durinya lebih panjang dan sangat tajam. Rasanya? Wow...sungguh sensaional. Sayangnya lahong tak bisa dibuka seperti durian. Jadi harus dibelah dengan menggunakan pisau. Daging buahnyapun tak setebal durian.

Setelah menikmati lahong dan durian kami melanjutkan perjalanan. Bukit Sagu menyampaikan selamat datang kepada kami. Bukit yang disangga oleh batuan karang tersebut dinamakan Bukit Sagu. Sebab disanalah penduduk mendapatkan sagu sebagai ganti sumber makanan ketika musim kelaparan melanda mereka. Saat Orang Punan belum menanam padi, mereka menuju ke bukit ini saat buah dan babi sulit didapatkan di hutan. Sekarang, ketika mereka sudah menaman padi, mereka tetap kesana saat panen mereka tidak berhasil.

Sekitar satu setengah jam kemudian kami berhenti di Kampung Long Pelay. Kami menginap di Kampung ini karena hari sudah sore. Tak mungkin lagi melanjutkan perjalanan. Apalagi malamnya kami memang berencara untuk berdiskusi dengan warga Long Pelay tentang keberhasilan program pertanian-konservasi kami. Kami sempat menyantap buah tarap dan buah kapul di Kampung Long Pelay. Buah tarap adalah sejenis sukun yang daging buahnya kaya akan gula dan karbohidrat. Rasanya masis. Sedangkan buah kapul mirip dengan manggis tapi berwarna kuning. Rasanya mirip-mirip manggis.

Pagi-pagi sekali kami harus melanjutkan perjalanan. Sebab kami akan berhenti untuk melihat pesemaian kakao yang dibuat oleh masyarakat Long Lamcin. Bukit Sagu masih berselimut kabut ketika kami mulai perjalanan. Jam setengah sembilan kami sampai di Long Lamcin. Kami masuk ke kampung. Namun hanya Pak Matius (Kepala Kampung) dan anjingnya yang berada di kampung. Semua penduduk kampung telah berada di lokasi pesemaian kakao. Pak Matius memang diminta untuk menunggu kami.

Pak Matius mengantar kami ke tempat pesemaian. Kami pun membentuk ular-ularan mengikuti Pak Matius berjalan membelah kampung. Di satu sudut kampung, ia membelok. Tak ada lagi jalan. Hanya semak rendah yang kami lewati. Mula-mula mudah karena datar. Makin ke dalam pohon makin tinggi dan tiba-tiba saya sadar bahwa kami berjalan di lereng bukit dengan kemiringan lebih dari 60o! Saya menjadi sangat hati-hati sekali. Apalagi memandang ke bawah, Sungai Kelay yang airnya mulai coklat tersenyum kepada kami. Saya harus benar-benar teliti dalam berjalan. Terpeleset berarti maut. Karena saya adalah orang kedua setelah Pak Matius, maka jarak rombongan kami dengan Pak Matius semakin lama semakin jauh. Jarak antara kami pun juga semakin renggang. Pada satu tempat yang hampir-hampir tegak, salah satu dari kami tergelincir. Untung dia bisa menangkap pokok kayu sehingga tidak meluncur ke sungai. Tapi lengannya tergores cukup dalam. Darah mengucur dari lengan yang terluka. Sejak itu kami lebih berhati-hati. Bahkan di beberapa tempat kami harus merayap. Menempelkan badan kami ke tanah sambil berpegang pada akar atau batang kayu untuk melangkah.

Kami lega ketika akhirnya sampai di tempat pesemaian. Aku segera menghampiri sekelompok warga kampung yang sedang mengisi polibag dengan tanah. Tidak hanya laki-laki. Tapi perempuan, anak-anak dan anjing-anjing semua berkumpul untuk bekerja bersama. Dalam masyarakat Punan memang tidak dikenal pembagian kerja yang tegas antara perempuan dan laki-laki.

Setelah duduk bersama mereka beberapa waktu, aku merasakan ada sesuatu yang janggal diselangkanganku. Rasanya gatal dan ada yang mengganjal. Sambil sedikit malu, saya raba selangkangan saya. Betapa terkejut saya ketika ada benda dingin sebesar jari diselangkangan saya. Saya coba mencabutnya. Tapi susah. Saya paksa. Dan...prol benda berbentuk lonjong sebesar jari tersebut lepas. Bersamaan dengan itu darah pun mengucur membasahi celana saya. Rupanya ada lintah di selangkangan saya. Pasti dia menyelinap ketika saya merayapi bukit terjal tadi.

Pak Matius menyuguhi kami dengan nangka mini. Nangka ini hanya sebesar mangga golek. Mula-mula saya tidak tertarik. Apa enaknya nangka sekecil itu? Pasti ini nangka cacat. Pak Matius memegang salah satu nangka tersebut tepat ditengahnya. Diputarnya nagka tersebut. Kulit di bagian bawah terbelah dan terpisah dari buahnya. Wow... butir-butir nagka terlihat ranum dengan warna jingga. Tak ada getah. Bau harum menyerebak. Sayapun segera memungut satu butir. Saya terperanjat. Rasanya tidak seperti nangka biasa. Belum pernah saya merasakan buah seenak ini. Setelah memangsa nagka mini dan menyaksikan tempat pesemaian kakao kami mencicipi matoa mini. Yang ini mirip sekali rasanya dengan matoa yang sudah mulai banyak dijual di Jawa. Hanya ukurannya lebih kecil.

Saat kami menikmati nagka mini, rupanya Pak Matius pergi dengan salah satu warga dan mencari dedaunan yang bisa memampatkan luka. Ketika kami sedang asyik memakan nangka, ia datang dengan membawa daun yang sudah dilayukan dengan cara diremas. Selanjutnya ia menempelkan daun tersebut ke lengan teman saya yang masih saja mengucurkan darah. Diikatnya daun tersebut untuk membebat luka. Tak berapa lama, kira-kira setengah jam kemudian, ketika daun tersebut dibuka, luka tersebut sudah menyatu seperti dijahit. Tak setetes darahpun menitik dari bekas luka tersebut. Ternyata orang Punan punya obat tradisional yang sangat mujarap.

Menjelang siang kami melanjutkan perjalanan ke kampung paling hulu, yaitu Kampung Long Sului. Air pasang ketika kami menuju Suluy. Ini disebabkan hujan tadi malam yang tercurah di bukit di atas Long Suluy. Air yang semakin besar ini membawa batang-batang kayu yang berdiameter lebih dari 50cm. Kami harus benar-benar berhati-hati. Sebab jika perahu kami menabrak salah satu kayu yang hanyut tersebut, maka tak akan ada kesempatan lagi untuk melanjutkan hidup.

Untunglah kami sampai dengan selamat di Long Suluy.

Penulis : Handoko Widagdo - Solo
Sumber : Kompas community
READ MORE - Pesona Hutan Hulu Kelay, Berau

Banyak Cara Menikmati Sungai Mahakam

Siapa tak tahu Sungai Mahakam? Berkunjung ke Provinsi Kalimantan Timur, kita akan disuguhi hamparan sungai yang membelah provinsi beribu kota Samarinda itu.Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar yang membelah Provinsi Kalimantan Timur. Alur sungai ini sebagian besar mengitari wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Samarinda.


Bagian hulu sungai ini melintasi Kabupaten Kutai Barat, sementara bagian hilirnya melintasi Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda. Sungai Mahakam bisa dikatakan menjadi jantung kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Kalimantan Timur. Banyak cara menikmati Mahakam! Mau tahu?

Di Samarinda, tepian Sungai Mahakam dimanfaatkan sebagai area publik yang menjadi tempat bersantai, khususnya pada sore hari. Pemerintah daerah setempat sudah menata sedemikian rupa sehingga masyarakat tampak nyaman berada di tempat itu.

Sungai MahakamMenjelang sore hari, kita akan melihat puluhan pedagang membuka lapak-lapak makanan dan minuman, berikut tempat duduk untuk bersantai. Persewaan mainan pun tersedia bagi mereka yang ingin memanjakan anak-anaknya. Makanan yang dijajakan, sebenarnya tak terlalu banyak, seperti bakso, mie ayam, nasi goreng, mie goreng, dan jagung bakar. Tapi, suasana menjadi salah satu hal yang dijual di kawasan itu.

Menjelang matahari terbenam, kawasan tepian Mahakam akan semakin ramai dikunjungi. Sebab, menikmati senja di tepian menjadi daya tarik tersendiri. Bagi yang ingin menikmati suasana lain, beberapa rumah makan yang terletak di kawasan perbukitan juga menawarkan keeksotisan sebuah sungai yang bisa dinikmati dari ketinggian.

Sungai MahakamDi kawasan tepian kota ini, kita juga bisa menemukan sentra penjualan amplang dan oleh-oleh khas Kalimantan Timur, juga puluhan penjual telur penyu. Telur penyu, konon berkhasiat mengobati berbagai jenis penyakit.

Di Kota Tenggarong, Sungai Mahakam juga bisa dinikmati dari sebuah pulau yang berada ditengah sungai yang melintasi kota tersebut. Pulau itu adalah Pulau Kumala, yang telah dikelola menjadi sebuah taman wisata. Beragam wahana bisa dinikmati dengan tiket masuk yang sangat terjangkau.

Sungai Mahakam sebagai Jantung Transportasi

Beberapa wilayah di Kalimantan Timur hanya dapat dilalui dengan menggunakan transportasi sungai. Bahkan, transportasi sungai masih menjadi andalan bagi pengangkutan barang di Kalimantan Timur. Panjang sungai ini mencapai 920 km. Beberapa anak sungai yang bermuara di Sungai Mahakam di antaranya Sungai Tenggarong, Sungai Belayan dan Sungai Lawa.

Sungai MahakamMenyusuri tepian Sungai Mahakam, kita akan menemukan berbagai aktivitas sosial masyarakat yang wilayahnya dilintasi sungai tersebut. Aktivitas tersebut misalnya pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi untuk angkutan penumpang dan barang, serta hasil bumi yang diperdagangkan antarpulau dan diekspor ke berbagai negara, aktivitas nelayan pencari ikan, dan kegiatan jual beli ikan hasil tangkapan.

Sebagian besar daerah hulu Sungai Mahakam hanya dapat dijangkau dengan menggunakan ketinting atau perahu motor, juga taksi air (kapal) jarak jauh. Pelabuhan Mahakam Hulu, menjadi titik keberangkatan kapal motor jarak jauh menuju sejumlah daerah di antaranya Melak, Long Iram, Long Bagun yang jarak tempuhnya antara satu hingga dua hari.

So, Anda tinggal memilih, ingin menikmati suasana Mahakam, atau malah ingin menyusurinya dari hulu ke hilir....

Penulis : ING
Sumber : Kompas
READ MORE - Banyak Cara Menikmati Sungai Mahakam

Nikaragua, The Volcanoes Country

Berada di Nikaragua seolah berada dalam mesin waktu yang kembali dan berhenti di masa lalu. Begitu banyak keunikan dan keeksotikan di negara Amerika Tengah tersebut. Bangunan-bangunan kuno dengan sentuhan Spanyol, warna-warni kerajinan tangan, makanan, bentuk fisik masyarakatnya yang khas Indian (disebut Ameridian : Amerika-Indian) serta `temple-temple`nya yang menakjubkan.

Managua

Berkunjung ke Managua, ibukota Nikaragua, mengingatkan kita pada kota kabupaten di Indonesia yang sedang membangun.

Setelah redanya konflik politik dengan rezim Sandinista yang berlangsung bertahun-tahun, negara ini mulai berkembang dan dimana-mana tampak pembangunan prasarana fisik yang sedang digiatkan. Yang menarik, rumah-rumah penduduknya, baik jendela maupun pintu, semua berterali besi, hal ini menunjukkan bahwa kota ini belum relatif aman.

Konon, menurut Omar -pemandu kami selama di Nikaragua- mobil-mobil di negara ini (termasuk yang dijual di showroom) adalah mobil bekas yang berasal dari Amerika. Angkutan umumnya pun bekas bis sekolah, sumbangan dari Amerika.

Kami menginap di Intercontinental hotel, satu-satunya hotel besar di Managua, didepannya terdapat shopping mall paling modern, Metrocentro Mall yang mirip dengan Bintaro Plaza di Jakarta.

La Colonia dan La Union adalah dua supermarket besar di kota tersebut. Kami sempatkan untuk singgah di pasar tradisional, Mercado Central (Pasar Sentral) bernama Mercado Roberto Huembes, disini dijual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari, sayuran, buah, bunga dan barang kerajinan -yang khas adalah perhiasan dari batu koral hitam-.

Saat masuk kami agak terkejut, tidak seperti tampak dari luar, di dalamya relatif bersih dengan kios-kios yang berjajar rapi. Seperti di Indonesia, belanja di sini kita juga harus pandai menawar. Saya membeli satu kalung black corall untuk oleh-oleh dengan harga US$ 13,- ternyata Mitha, anak saya, dengan harga US$ 10,-mendapat barang yang mirip bentuknya! Apabila kita tidak membawa mata uang setempat (Cordoba, 1 US$ = 16 Cordoba) mereka pun menerima apabila kita membayar dengan dollar Amerika .

Satu pengalaman menarik saat saya diantar Halet, istri Omar, menukarkan uang di penukaran uang. Kami seperti masuk ke dalam penjara! Ruangannya dikelilingi terali besi dan dijaga dua orang tentara bersenjata laras panjang! Ngeri juga saya .....

Puas menjelajah di pasar tradisional, kami menuju Plaza de la Revolucion, tempat bersejarah di mana semua kegiatan politik dahulu dilakukan ditempat ini. Di kompleks ini terdapat Catedral de Santiago, yang hancur karena gempa bumi di tahun 1972 dan Palacio Nacional de la Cultura (museum Nasional) serta Ruben Dario National Library. Di seberang museum berdiri istana Presiden Enrique Bolanos yang baru saja dibangun.

Omar menerangkan, sayang sekali kami berkunjung ke Nikaragua kurang tepat musimnya, karena tidak ada festival di bulan September ini, tetapi termasuk beruntung karena di bulan Mei - Nopember (musim hujan) banyak hotel yang memberi tarif `miring`. Menurutnya, saat paling tepat apabila kita berkunjung ke Nikaragua adalah antara bulan Desember - April saat musim panas. Ada 2 festival besar yang dirayakan, the `Festival de Musica y Juventud` (The Music and Youth Festival) di bulan Pebruari dan `Fiestas Agostinas` di bulan Agustus. Sedangkan saat Holly Week di akhir Maret sampai awal April merupakan pesta makanan dan kerajinan tangan bagi rakyat Managua.

Puas berjalan-jalan dan menyusuri kota Managua, belum pas rasanya kalau belum mencicipi makanan khasnya. Makanan Nikaragua kaya akan rasa dan cocok untuk lidah orang Indonesia. Mereka banyak mengonsumsi pisang, singkong, keju dan kacang merah.

Pisang digoreng seperti keripik pisang di Indonesia, gurih dan renyah. Singkong pun digoreng merekah, enak sekali. `Gallo pinto`, merupakan campuran kacang merah, nasi dan keju yang disajikan di atas tungku kecil dari tanah liat. Kami sempat mencicipinya saat makan siang di restoran Dona Haydee. Bila berkunjung ke sana jangan lupa memesan sop buntut di campur umbi-umbian. Kuah sup yang gurih - bening, potongan butut sapi yang empuk dicampur manisnya potongan labu dan singkong.... hm...sangat lezat..!.

Malam hari nanti kami berencana makan malam di Tip-top, restaurant ayam (Pollo, baca; po-yo) goreng khas Nikaragua. Ternyata setelah kami merasakannya, rasa dan bentuknya mirip ayam goreng cepat saji Amerika, KFC!.

Masaya

Berjarak hanya +/- 16 mil dari Managua, kota ini terkenal akan kerajinan tangannya. Di Mercado de Artesanias (pasar seni) yang bernama San Juan de Oriente dijual berbegai macam kerajinan khas Nikaragua seperti, kerajinan kayu, gerabah, kulit, lukisan dan sulaman. Saya tergelitik untuk membeli ayunan dari benang warna-warni, tetapi membayangkan membawanya nanti di pesawat pasti akan merepotkan, akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah apron (saya perhatikan hampir semua pedagang di pasar memakai apron ini) yang disulam dengan benang warna-warni dengan motif yang khas Indian.

Dari Masaya kami meneruskan perjalanan ke Granada yang merupakan kota kolonial tertua di Nikaragua yang dibangun pada tahun 1524. Terletak dipinggir danau Nikaragua dan dekat gunung api Mombacho. Tiga kota terbesar di negara ini, Managua, Masaya dan Granada dibangun di atas `bayang-bayang` gunung berapi (ada 9 gunung api) yang sampai saat ini masih aktif.

Granada sangat romantik, dengan bangunan-bangunan klasiknya yang penuh warna. Pusat kegiatannya berada di Parque Central/Parque Colon, di sekitar tempat ini terdapat Parroqui Inmaculada Concepcion de Marcia Catedral de Granada yang megah dan Casa de los Tres Mundos- Pusat kebudayaan di Granada-.

Diiringi langit yang mendung, dengan naik kereta kuda - mirip andong di Yogya- kami berkeliling kota menyusuri jalan utama La Calzada dan Xalteva sambil mengagumi keindahan arsitektur rumah-rumah bergaya neo-klasik dan baroq yang berwarna terakota.

Kalau diamati hampir semua rumah di sini mempunyai kursi goyang, uniknya mereka tidak hanya punya satu bahkan empat kursi goyang yang diletakkan di teras atau ruang tamu!

Mereka tampaknya amat suka `mencari angin` dan mengobrol diteras rumah sambil duduk di kursi goyang. Sayang, saya lupa untuk bertanya lebih jauh tentang gaya hidup mereka ini kepada Omar, pemandu kami.

Selagi kami asyik ber`andong ria` tiba-tiba hujan turun sangat deras, memaksa kami untuk berteduh sambil mampir untuk makan malam di La Gran Francia Restaurant, restoran masakan Perancis dengan sentuhan Nikaragua, salah satu bangunan peninggalan kolonial Spanyol (dibangun tahun 1524) yang telah direkonstruksi.

Besok pagi, satu perjalanan lagi menanti kami,tak sabar rasanya untuk melihat peninggalan suku Maya di Guatemala!.

Penulis : Ramadhani Iskandarrini
Sumber : Kompas

READ MORE - Nikaragua, The Volcanoes Country

Patong Beach

Kali ini perjalalan yang kulakukan tanpa rencana matang. Karena setelah lelah rapat-rapat yang kulakukan di Kuala Lumpur Malaysia, secara tak sengaja kulihat brosur menarik tentang Phuket Island yang terletak di Thailand. Melihat gambar pantainya yang bersih dan indah tergelitik aku ingin mengunjunginya. Hingga dengan agak tak sabar kudatangi travel agen dihotel tempat aku menginap dan kucari informasi tambahan tentang Phuket Island.
Penerbangan yang hanya menyita waktu 1,5 jam tak terasa karena kesibukanku membaca buklet promosi dari Phuket Island. Begitu menjejakkan kaki di Phuket,langsung saja kucari travel agen yang menjual voucher hotel. Melihat brossur hotelnya aku tertarik mengambil hotel yang ditawarkan dengan harga relatif murah dan nampak mengasyikkan untuk ditinggali, karena bentuk kamarnya yang luas dan kolam renang lebar nampak apik dan menjanjikan kesegaran usai berenang.

Langsung kuambil voucher tersebut, dengan taxi aku meluncur ke hotel yang kutuju dibilangan Sainamyem Road. Begitu meletakkan koper langsung saja kucari taksi untuk menuju ke Patong Beach. Ternyata Taksi yang tersedia hanya dari Bandara ke hotel tempat tujuan dan langsung balik lagi ke bandara. Transportasi yang ada hanyalah Tuk-Tuk yang kalau di Jakarta disebut angkot.

Dari hotel menuju Patong Beach aku membayar 100 bath dan langsung diturunkan di pinggir pantai Patong. Terkejut dan kelu aku melihat indahnya pantai tersebut, dengan pasir yang berwarna putih bersih dan air yang sangat tenang seperti warna jade membuatku memutuskan untuk pindah hotel yang dipinggir pantai saja, agar aku dapat terus menikmati pantai cantik ini dengan lebih dekat. Beruntung aku mendapat kamar yang menghadap langsung kearah laut lepas dihotel Patong Bay. Harga kamar yang ditawarkan juga amat variatif mulai dari 4.600 bath hingga 12.000 bath untuk kamar suite. Namun harga tersebut masih dapat ditawar, biasanya mereka memberi diskon antara 15 sampai 25%, apalagi jika sedang tidak musim liburan maka harga kamar hotel dapat lebih murah lagi.

Sore itu juga aku pindah hotel dan rebahan berjam-jam dipinggir pantai menikmati eksotisnya Patong Beach, nampak beberapa orang sedang adu cepat mengendarai jet ski dan beberapa perahu kecil bersandar dibibir pantai siap mengajak bertualang kelepas pantai. Beberapa pasangan tampak berasyik masyuk saling rangkul berjalan dibibir pantai dengan kaki terendam air hingga betisnya. Nampak sangat romantis karena background laut lepas dibelakangnya membentuk siluet indah.

Patong Beach sangat terkenal keindahannya sehingga daerah tersebut dipenuhi oleh hotel-hotel mulai dari kelas penginapan hingga hotel bintang 5, selain itu dikiri kanan jalan Thaweewong Road atau yang biasa disebut Patong Beach Road juga banyak sekali terdapat restoran yang menawarkan masakannya. Mau pilih restoran Jepang, Italian Pizza, American Steak, Malaysia Cuisine hingga Thailand Food. Bahkan beberapa restoran besar menawarkan seafood segar yang bisa kita pilih sendiri, seperti lobster, ikan kerapu bahkan hiu kecil. Pilih saja, mau digoreng, dibakar atau di steam.

Untuk penggemar diving juga disediakan perlengkapan yang dapat disewa, untuk pemula ada guide terlatih yang memandunya. Bahkan tawaran untuk belajar diving secara serius juga tersedia dengan nama Phuket International Diving Scholl. Tempat eksotis penggemar diving yang ditawarkan oleh Phuket terdapat di pantai Patong, Pantai Kata, Pantai Karon serta Pantai Khao lak.. Semua menjanjikan keindahan alam dasar lautnya yang bersih dan indah dengan keaneragaman kehidupan dasar laut, hingga hampir semua penyelam pasti memuja keindahannya dan ingin melakukan penyelaman ulang diwisata ini.

Beberapa tempat yang layak didatangi , sebut saja; James Bond Island ( Bat Cave) di Phang Nga Bay, dimana terdapat bukit batu besar yang seakan menyembul keluar dari dari dasar laut dan menjulang tinggi, disinilah tempat shooting film James Bond, "The Man With The Golden Gun", hingga James Bond Island lebih populer dikenal.

Perjalanan menuju james Bond Island dapat dilakukan dengan mengendarai speed boat yang disopiri oleh awak yang telah terlatih. Elephant show atau elephant trekking juga bisa menjadi pilihan liburan, karena Phuket juga menawarkan petualangan trekking dengan duduk diatas gajah yang diatas badan gajah tersebut diberi kursi dengan kapasitas dua orang sedangkan pemandunya duduk didepan, dikepala gajah !!

Bang La Road adalah nama jalan yang terkenal di daerah patong, jika siang hari jalanan tersebut dibuka sehingga semua kendaraan dapat berlalu lalang dengan mudah, namun dimalam hari Bang la Road ditutup dari ujung satu keujung yang lainnya, dan kehidupan malam mulai marak disitu. Selain toko souvenir, restoran, disepanjang kiri dan kanan Bang La Road banyak terdapat bar, diskotik hingar bingar, yang menawarkan beberapa tontonan “panas” bahkan untuk menarik pengunjung masuk ke bar beberapa bar dan diskotik menyediakan panggung kecil yang diatasnya ada 2 atau 3 penari seronok dengan mengenakan bikini minim saja, hingga banyak pejalan kaki berhenti dan asyik melihat tontonan gratis tersebut.

Bahkan di Bang La Road Plaza tempat berkumpulnya bar-bar kecil yang dijadikan satu area terdengar irama musik gaduh, sulit didengar karena setiap bar menyetel musik sendiri-sendiri menurut seleranya msing-masing bar tersebut, menawarkan tontonan gratis 5 penari erotis yang mengenakan baju super seksi atau hanya mengenakan bikini menggeliat-nggeliatkan badannya untuk memamerkan tarian erotisnya sambil mengikuti debuman irama musik, namun setelah dilihat dengan seksama ternyata penari erotis tersebut adalah waria. (pw)
sumber : Perempuan.com
READ MORE - Patong Beach

Pulau Onrust

Sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui, Itulah pepatah yang bisa dikatakan ketika berkunjung ke P. Onrust. Karena selain Pulau Onrust, dalam hitungan menit yang ditempuh dengan perahu, kita akan bisa mencapai Pulau Bidadari dan Pulau Cipir. Maka dari itu ketika berkunjung ke Onrust, harus berkunjung ke dua pulau lain didekatnya kalau tidak mau rugi.

Pelan-pelan kapal kami merapat di Pulau Onrust, salah satu gugusan pulau di Kepulauan Seribu. Dari jauh terlihat beberapa bangunan tua yang sudah tua dan rusak. Dermaga yang tidak terlalu bersih, kalau tidak mau dikatakan kotor menyambut kedatangan para wisatawan. Kami pun langsung bergegas mengelilingi Onrust yang konon katanya semasa penjajahan Belanda merupakan salah satu tempat tersibuk sebagai pusat persinggahan kapal VOC ( Verenidge Oost Indische Compagnie ).

Walaupun sekilas terlihat porak-poranda, namun kebersihan pulau ini nampak sekali sangat diperhatikan. Karena berdasarkan keputusan Gubernur KDKI Jakarta N. Cb.11/2/16/1972 dinyatakan sebagai pulau bersejarah yang dilindungi. Dan selanjutnya sesuai dengan Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No : 134 tahun 2002 Taman Arkeologi Onrust ditetapkan sebagai UPT di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DK Jakarta.

Pulau ini sangat mudah dicapai dengan transportasi laut, bisa melalui Muara Kamal, Muara Angke dan Pantai Marina Ancol dengan jarak kurang lebih 14 kilometer dapat ditempuh selama dua puluh menit. Onrust sendiri menurut Bahasa Belanda artinya “tanpa istirahat” atau sibuk atau dalam Bahasa Inggrisnya Unrest. Penduduk setempat menyebut Pulau Kapal, Karena pada abad 17-18 pulau ini sangat sibuk disinggahi kapal-kapal VOC. Selain itu Pulau Onrust sebagai tempat perbaikan dan pembuatan kapal, sehingga memang benar-benar pulau ini sangat sibuk pada masa itu.

Museum Onrust adalah satu-satunya bangunan yang masih berdiri dengan utuh. Di museum ini tercatat dengan rapi berbagai perkembangan pulau ini dari waktu ke waktu. Sejarah singkatnya : antara tahun 1803-1810 Pulau Onrust 3 kali digempur oleh Inggris, dan terakhir pada tahun 1810 armada Inggris yang dipimpin oleh Admiral Edward Pellow menghancurkan sarana dan prasarana Pulau Onrust. Pada tahun 1848 mulailah Pulau Onrust dan sekitarnya oleh Belanda difungsikan kembali menjadi pangkalan Angkatan Laut. Namun prasarana ini kembali hancur akibat gelombang tidal ( letusan Gunung Krakatau tahun 1883 ).

Pada awal masa kemerdekaan, Pulau Onrust dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina bagi penderita penyakit menular dibawah pengawasan Departemen Kesehatan RI hingga awal 1960. Kemudian sejak 1960 sampai dengan 1965 dimanfaatkan untuk penampungan gelandangan dan pengemis serta latihan militer. Pada tahun 1968 terjadi penjarahan besar-besaran di Pulau Onrust, sehingga bangunan-bangunan bersejarah tinggal puing-puingnya saja. Selain bangunan museum yang utuh, beberapa bangunan lain yang tinggal pondasinya adalah barak haji, barak karantina penyakit dan barak-barak prajurit. Terdapat pula kuburan prajurit Belanda yang gugur disini, serta kuburan tahanan pribumi.

Tidak ada fasilitas – fasilitas di pulau ini, seperti penginapan, tempat bermain, yang ada hanyalah beberapa warung makanan penduduk yang kurang teratur, sehingga agak sedikit menganggu keindahan pulau ini. Berkunjung ke pulau ini merupakan wisata sejarah, karena memang pulau ini kurang menampakkan wajahnya sebagai pulau wisata. Setidaknya dengan berkunjung ke Pulau Onrust, kita bisa ikut merasakan salah satu perjalanan panjang sejarah Bangsa Indonesia.

Penulis : AMGD
Lokasi : Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara
Fotografer : AMGD
Sumber : Navigasi.net
READ MORE - Pulau Onrust

Upacara Ungkal Biang

Mengikuti detik demi detik prosesi upacara adat Ungkal Biang sebagai warisan tradisi leluhur Sunda di Kampung Budaya Sindang Barang seperti kembali ke masa lalu. Berbagai kesenian tradisional yang hampir punah tampil kembali secara unik dan memikat. Kesemuanya semakin menggambarkan betapa kayanya alam, seni dan budaya bangsa ini.

Suara khas alunan musik sunda sayup-sayup mulai terdengar begitu langkah kaki saya memasuki daerah yang terlihat begitu asri. Pemandangan sawah yang terbentang luas dengan latar belakang bangunan-bangunan kampung sunda tempo dulu membuat panorama disekitarnya menjadi sangat berbeda, khas dan indah. Kampung Budaya Sindang Barang, itulah nama kampung adat yang berada di wilayah selatan Bogor atau tepatnya di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor.

Saat saya berkunjung ke kampung tersebut, Minggu 16 Nopember 2008, kebetulan memang sedang berlangsung puncak acara upacara adat Ungkal Biang. Menurut Pak Ulung, salah seorang tokoh kesenian di kampung tersebut mengatakan bahwa Ungkal Biang adalah upacara Pemasangan Batu atau Pembuatan Tugu atau Monumen sebagai simbol berdirinya satu kampung. “Ungkal Biang merupakan salah satu tradisi masyarakat sunda lama yang harus dipertahankan. Upacara adat ini dulu biasa dilakukan sebagai simbol atau tanda berdirinya suatu kampung atau daerah. Masyarakat sekarang menyebutnya dengan tugu atau monumen. Batu yang dijadikan penanda atau tugu berdirinya Kampung Budaya Sindang Sendiri diambil dari Kali Pamali yang letaknya tidak jauh dari kampung,” terang Pak Ulung.

Ungkal Biang

Sekitar pukul setengah sepuluh terlihat rombongan arak-arakan yang terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak berpakaian tradisional sunda. Yang menarik dan unik dari arak-arakan ini adalah rombongan bapak-bapak membawa tumpengan dengan iringan angklung dan kendang yang dimainkan oleh rombongan ibu-ibu. Kesenian yang bernama ngarak tumpeng menjadi penanda dimulainya upacara adat Ungkal Biang. Rombongan keseningan ngarak tumpeng terus berjalan sampai memasuki areal Kampung Budaya Sindang Barang dimana lokasi upacara adat Ungkal Biang berlangsung. Kemudian seluruh tumpeng diletakkan di teras Imah Gede atau rumah besar yang merupakan tempat tinggal Pupuhu atau Kepala Adat Kampung Budaya Sindang Barang, Bapak Ahmad Maki Sumawijaya.

Setelah sambutan dari Bapak Ahmad Maki Sumawijaya, selaku kepala adat, acara pemancangan batu pun dimulai. Lokasi pemancangan batu itu sendiri terletak disisi kanan depan dari Iman Gede. Kesenian musik tradisional angklung dan kendang terus dimainkan selama prosesi acara berlangsung. Sebagai pelengkap prosesi upacara tidak ketinggalan sesajen yang terdiri dari kembang, kemenyan, sirih, air doa bercampur kembang, kolang-kaling, nasi putih dan beberapa benda lainnya yang telah disiapkan di atas meja. Prosesi acara dipimpin oleh salah seorang kokolot atau orang yang dituakan di kampung tersebut.

Seekor ayam jantan putih diletakkan terlebih dahulu di atas batu besar setinggi kira-kira 1 meter sebelum akhirnya ayam tersebut di angkat kembali. Kemudian batu tersebut diangkat beramai-ramai hingga dapat berdiri tegak ditempat yang telah ditentukan. Selama prosesi pemancangan batu tersebut asap dari kemenyan yang dibakar menyebar mengeluarkan aromanya yang khas. Setelah batu dianggap telah berdiri dengan kokoh, kembali ayam jantai putih diletakkan di atas batu tersebut beberapa saat dan selanjutnya dilepas kembali dengan cara diterbangkan.

Prosesi dilanjutkan dengan menyiramkan air doa becampur kembang di atas batu. Air doa bercampur kembang bukan hanya disiramkan ke atas batu tetapi juga di cipratkan ke para tamu yang berada di sekeliling batu. Acara kemudian ditutup dengan doa dan makan nasi tumpeng bersama termasuk para tamu yang hadir pada acara tersebut.

Hiburan

Untuk menghibur para tamu yang hadir pada upacara adat Ungkal Biang, beberapa kesenian tradisional sunda asli Bogor yang sudah hampir punah dikenalkan kembali disini. Dimulai dengan gendang pencak – semacam seni bela diri pencak silat yang diperagakan seorang pria dengan iringan gamelan sunda. Kemudian tari jaipongan yang menampilkan beberapa anak gadis berusian antara 12-17 tahun. Dalam tari jaipongan ini penari-penarinya cukup interaktif karena para penonton juga diajak serta untuk menari bersama.

Hiburan lainnya yang unik adalah drama musikal sunda yang disebut ngagondang. Menurut abah Encem, seorang Kokolot Kampung Budaya Sindang Barang, kesenian ini sebagai sarana hiburan setelah panen. “Dulu ngagondang biasanya dimainkan oleh 6 orang istri atau wanita yang masih gadis dan 7 pria yang masih perjaka. Ada juga alu ­dan lesung yang disebut tutunggalan sebagai perlengkapannya. Namun, sekarang lelaki yang bukan perjaka juga boleh tempil, Dan biasanya dilakukan setelah panen” terang abah Encem. Drama musikal sundaini isinya biasanya menggambarkan pergaulan para pemuda sunda pada jaman dulu. Seperti terlihat dalam salah satu adegannya ketika para wanita sedang menumbuk padi, para pria datang menggodanya.

Kemudian ada lagi kesenian Reog, yaitu salah satu kesenian tradisional sunda asli Bogor yang juga hampir punah. Kesenian Reog sendiri merupakan hiburan semacam grup lawak, dimana setiap pemainnya membawa kendang sendiri-sendiri sambil berbicara satu sama lainnya.

Sebagai penutup ditampilkan kesenian tradisional sunda yang sangat unik yaitu Parebut Seeng. Kesenian ini diperagakan oleh beberapa pasang pria yang berkelahi menggunakan seni beladiri sunda pencak untuk memperebutkan seeng atau dandang – alat untuk menanak nasi yang biasa digunakan pada jaman dulu. Ini merupakan salah salah satu dari kesenian yang unik dan menarik yang pernah saya lihat. Sepasang pria berkelahi dimana salah satunya menggendong seeng atau dandang dipunggungnya dan lawannya berusaha untuk merebutnya. Permaianan ini akan berakhir begitu pria tersebut berhasil merebut seeng dari lawannya.

Sungguh merupakan sebuah pengalaman yang berharga dapat melihat salah satu upacara adat tradisioanl Sunda, Ungkal Biang, yang biasanya dilakukan hanya sekali pada satu kampung atau daerah pada jaman dulu. Termasuk tentunya menyaksikan berbagai kesenian trasional sunda yang hampir punah. Menyaksikan semua itu terasa betapa kayanya negeri ini dengan berbagai budaya, kesenian dan alamnya. Maka sepatutnyalah kita bangga dan bersyukur telah menjadi bagian dari anak di Bumi Nusantara ini.

Sumber : http://mahameruadventure.multiply.com/
READ MORE - Upacara Ungkal Biang