Wisata Angker di Lawang Sewu

Saya perhatikan untuk Koki - Tour hampir semua artikelnya adalah tentang pesona wisata di luar negeri mulai dari New Zealand, Singapore, Texas dan Austria. Padahal di Indonesia banyak terdapat obyek-obyek wisata menarik dan unik yang saya yakin akan sulit ditandingi oleh negara lain.

Oleh karena itu, saat ini saya mencoba berbagi cerita tentang pengalaman berwisata ke suatu obyek wisata unik yang mungkin sebagian Kokiers belum pernah berkunjung kesana. Obyek wisata ini bernama Lawang Sewu. Jika obyek-obyek wisata lain menawarkan keindahan alam berupa pantai ataupun pegunungan maka lawan sewu menawarkan sesuatu yang sangat berbeda yaitu "keangkeran"!

Apakah Lawang Sewu ?

Sebagian Kokiers mungkin bertanya tanya "mahluk" apakah lawang sewu itu?. Lawang sewu adalah sebuah gedung tua peninggalan Belanda yang terletak di kota Semarang Jawa Tengah. Gedung ini terletak tepat di bundaran Tugu Muda yang dahulu dikenal dengan nama Wilhelmina Plein.

Mengapa disebut Lawang Sewu?

Lawang sewu berasal dari dua kata bahasa Jawa yaitu : Lawang yang berarti Pintu dan Sewu yang bermakna seribu. Jadi Lawang sewu adalah gedung yang mempunyai jumlah pintu seribu buah. Walaupun secara kenyataan jumlah pintu yang ada tidak mencapai seribu buah (saya tidak menghitungnya hehe) tetapi karena gedung ini memiliki jumlah pintu yang banyak dan besar maka penduduk setempat memberikan nama lawan sewu.

Sejarah Lawang Sewu

Dari penjelasan yang saya dapatkan dari pemandu wisata disana, lawang sewu dibangun pada sekitar tahun 1903 dan pada masa pemerintahan Belanda gedung berlantai dua dan mempunyai ruang bawah tanah ini berfungsi sebagai kantor dari NIS (Nederlansch Indishe Spoorweg Naatschap). Sisa peninggalan Belanda yang masih terlihat jelas pada lawang sewu adalah ornamen khas eropa yang terdapat pada jendela besar di dalam gedung.

Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia pada sekitar tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya merupakan saluran pembuangan air di "sulap" menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan penjajah Jepang yang terkenal dengan pertempuran lima hari. Sisa pertempuran ini masih terlihat dari bekas tembakan di salah satu tiang penyangga gedung ini.

Setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa Indonesia, gedung ini dipakai sebagai kantor oleh Perusahaan kereta api Indonesia atau KAI.

Penjara Jongkok

Pada kesempatan itu juga saya menyempatkan diri masuk ke dalam ruang bawah yang oleh Jepang di gunakan sebagai penjara. Karena ruangannya yang sangat sempit dan atapnya rendah penjara-penjara ini dinamakan sebagai penjara jongkok. Sumber cahaya yang sangat minim dan kondisi ruangan yang lembab membuat suasana di dalam penjara jongkok ini cukup membuat merinding bulu kuduk. Pemandu wisata juga menjelaskan bahwa ruang bawah tanah ini sering dipakai sebagai tempat eksekusi para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Jepang dan jasad-jasad mereka dibuang ke kali yang terletak di sebelah gedung ini.

Wisata Angker

Saat ini, Lawang sewu di kenal oleh penduduk setempat sebagai gedung yang angker dan konon sering terlihat mahluk halus pada malam hari. Menurut saya dari sudut pandang pariwisata, kesan tersebut sebenarnya merupakan peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan baik lokal maupun asing khususnya mereka yang menyukai tantangan berbau mistis dan angker. Saya yakin apabila potensi ini dioptimalkan maka akan lebih banyak wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia dan tentunya tambahan devisa bagi negara ini.

Jadi siapkah Kokiers untuk mencoba wisata angker di Lawang Sewu??

Penulis : Mohammad Ramadhani - Jakarta
Sumber : Kompascommunity.com

Comments