Madurodam, Cukup Dua Jam Mengelilingi

Selasa, 23 Oktober 2012

 
 Entrance of Madurodam

 Ditulis oleh andri kurniawan   

LUAS Madurodam hanya sekira 18.000 meter persegi. Namun, taman miniatur ini memiliki koleksi ikon arsitektur Belanda yang cukup komplet. Membuat Anda hanya membutuhkan waktu dua jam agar merasa mengelilingi "Belanda".
Dinginnya udara di Den Haag tidak menyurutkan niat SINDO dan wartawan lain yang tengah mengikuti kunjungan kenegaraan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Belanda, beberapa waktu lalu, berwisata ke Madurodam yang terletak di The Hague. Meski suhu udara mencapai 3 derajat Celsius, kemasyhuran Kota Miniatur yang dibuka pada 1952 ini membuat kami penasaran untuk mengintipnya. Beruntung cuaca pada hari itu cukup cerah sehingga embusan angin tidak terlalu terasa menusuk kulit.

Untuk masuk ke dalam Madurodam, setiap pengunjung dewasa dikenakan 14,50 euro. Harga tiket memang bisa dikatakan cukup mahal, mengingat kami yang terbiasa mengantongi rupiah. Kalau ditukar ke mata uang rupiah, setidaknya masing-masing dari kami harus membayar sekitar Rp200.000. Namun, jika Anda membawa rombongan lebih dari 20 orang, maka harga tiket per orang bisa lebih murah, yakni 10,25 euro.


Namun, rasanya harga tersebut cukup pantas tatkala saya dan rekan-rekan memasuki taman yang dibangun dengan skala 1:25 itu. Meski luasnya hanya sekitar 18.000 meter persegi, Madurodam memiliki koleksi ikon arsitektur Belanda yang cukup komplet, seperti kincir angin, Pelabuhan Rotterdam, Bandara Internasional Schiphol, Jembatan Erasmusbrug, dan Stadion Amsterdam Arena yang merupakan markas klub sepak bola Ajax.

Sang arsitek, yakni SJ Boume memang cukup teliti dalam merancang setiap miniatur bangunan. Contohnya, Bandara Internasional Schiphol yang dibuat persis menyerupai aslinya. Selain bangunan, Madurodam juga dilengkapi dengan miniatur orang, mobil, pepohonan, dan kereta api.
Inside Madurodam, Rijksmuseum

Pagi itu cukup banyak warga Belanda yang mengajak anak-anaknya berekreasi ke Madurodam. Para orangtua terlihat sibuk mengawasi anak-anak mereka yang berlari ke sana kemari melihat miniatur kereta api, pesawat, dankapal laut. Selain anak-anak, tidak sedikit pula kaum manula yang mengunjungi tempat ini dengan tujuan bernostalgia.

Berbekal kamera pocket, mereka pun berfoto di depan miniatur Istana Ratu Belanda. Sementara saya sendiri lebih tertarik berfoto di depan miniatur kincir angin dan Bandara Schiphol.
Miniature planes at the miniature Schiphol airport in Madurodam

Kemeriahan Madurodam semakin semarak dengan hadirnya burung camar yang terbang lalu lalang melintasi langit biru. Beberapa dari burung camar itu bahkan hinggap di miniatur kapal dan semakin menghidupkan suasana di miniatur Pelabuhan Rotterdam.

Jika ada pertanyaan proyek terbesar apa yang pernah dibuat di Madurodam, maka jawabannya adalah miniatur Bandara Schiphol yang dibuka kembali pada 2003. Dengan menggunakan landasan magnetik dan baterai isi ulang dan bantuan komputer, pesawat terlihat berlalu lalang di taxi way buatan. Pesawat yang bergerak ini menjadi tontonan menarik sebagian pengunjung, terutama anak-anak kecil.


Selain bangunan rumah, gedung, dan katedral, terdapat pula miniatur instalasi pengeboran minyak lepas pantai dan juga pom bensin milik perusahaan energi terkenal asal Belanda, yakni Shell. Setelah puas berkeliling, saya pun menuju toko suvenir yang masih terletak di dalam kawasan Madurodam.

Di toko ini kami bisa menemukan banyak suvenir khas Belanda. Tidak terasa, saya sudah berjalan-jalan mengelilingi "Belanda" selama dua jam. Ya, jika Anda tidak sempat mengelilingi Belanda, maka Madurodam bisa menjadi tempat persinggahan singkat saat Anda berada di Negeri Kincir Angin tersebut.
sumber :  http://jalanasik.com
READ MORE - Madurodam, Cukup Dua Jam Mengelilingi

Siem Reap tujuan wisata Kamboja

siem.jpg 
KOTA Siem Reap yang dulu dikenal angker dan rawan kriminalitas, kini mengubah wajahnya menjadi tempat tujuan wisata utama di Kamboja, lengkap dengan taburan hotel mewah dan restoran ternama.

Ingat Kamboja, ingat Khmer Merah. Begitu kira-kira yang terlintas di benak banyak orang tentang negara di kawasan Asia Tenggara ini. Pada tahun 1970-an sampai pertengahan 1990-an, Rezim Khmer Merah yang brutal memang selalu menghiasi berita yang menyangkut Kamboja, hingga tak heran masyarakat mengasosiasikan Kamboja sebagai negara mengerikan yang rawan konflik.

Namun, setelah kematian pimpinan Khmer Merah, Pol Pot pada tahun 1998, kondisi keamanan Kamboja pun berangsur-angsur pulih. Salah satu kota terbesar di Kamboja yang ikut berbenah, yaitu Siem Reap, ibu kota Provinsi Siem Reap. Jika nama ini belum terlalu akrab di telinga, nama Angkor Wat atau Candi Angkor mungkin pernah sampai ke telinga. Nah, Siem Reap adalah tempat bermukimnya Angkor Wat, yang sama seperti Candi Borobudur, masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site.

Soal memperbaiki sarana wisatanya, pemerintah Kamboja memang patut diacungi jempol. Lihat saja Angkor Wat yang saat ini memiliki berbagai layanan wisata yang memanjakan. Bayangkan saja, wisatawan bisa memilih berbagai alat transportasi untuk berkeliling area candi tersebut. Mau naik gajah? Boleh. Mau naik helikopter? Bisa. Atau mau dengan cara tradisional dengan berjalan kaki dan menyelami tiap lekuk batu candi, silakan saja. Bahkan, kalau mau mengambil gambar dengan video pun dipersilakan.

Padahal dulunya, area di sekitar candi ini adalah tempat yang lumayan berbahaya. Jika wisatawan berangkat dari Phnom Penh, Vietnam, dengan menggunakan kapal boat dengan jarak tempuh lima jam, kapal tersebut bisa saja tenggelam atau bahkan ditembak oleh para bandit. Bahkan, pasukan Khmer Merah bisa saja mengawasi dari balik bukit. Tapi kini, di sekitar tempat tersebut banyak dibangun tempat main golf bahkan juga restoran es krim.

Itu baru bicara soal Angkor Wat saja. Melangkah delapan kilometer dari situ, yaitu ke pusat Kota Siem Reap, akan lebih menakjubkan lagi. Kota yang dulunya penuh darah ini, kini telah bangkit dan bersolek dengan membangun hotel- hotel mewah, tempat berbelanja, spa, galeri, bahkan tempat kerajinan tangan.

Salah satu kawasan bernama Pub Street, bahkan dilengkapi dengan kafe bertaraf internasional, bar dengan desain yang artistik dan cozy, tempat pacuan kuda, convention hall, pasar malam, restoran dengan pemandangan candi, sampai wisata alam.

Soal hotel, Grand Hotel adalah hotel berkelas dunia pertama yang kembali dibangun di Kamboja. Hotel yang berbasis di Singapura ini pada tahun 1960-an sempat disinggahi Charles de Gaulle dan Jacqueline Kennedy Onassis. Kabarnya, Bill Clinton dan penyanyi Ricky Martin juga pernah menginap di tempat ini. Singkat kata, Grand adalah tempat menginap pertama yang akan dikunjungi para figur publik terkemuka di dunia jika mengunjungi Kamboja.

Tempat menginap lainnya yang jadi incaran adalah Residence Angkor. Ini adalah sebuah boutique hotel dengan 55 kamar. Yang jadi daya tarik hotel ini ialah, kamar-kamarnya dibuat dari kayu yang eksotik. Hotel yang dikelola Orient-Express Hotels (OEH) ini sepertinya memang dirancang untuk para turis dari kawasan Eropa dan Amerika. Dengan fasilitas spa, business center, Victoria Angkor Resort & Spa dengan 130 kamar, dan resor golf, tempat ini memang bisa membuat betah siapa pun yang ingin diperlakukan layaknya raja.

Geliat pariwisata di Siem Reap makin menjadi-jadi karena di sepanjang jalan setelah Bandara Siem Reap-Angkor International Airport, belasan hotel bintang empat siap menjamu dengan berbagai layanan berkelas.

Banyak dari hotel high-end ini yang akhirnya melakukan ekspansi. Misalnya saja Amanresorts International, milik perusahaan di Singapura, yang sudah membuka 12 kamar berkelas resor pada tahun 2002. Pada tahun 2006, mereka membuka 12 kamar lagi yang tarif per malamnya mencapai USD700. Uniknya, meski kamarnya didesain dengan gaya baru, peralatan di kamar dan hotel tersebut penuh catatan sejarah.

Misalnya, guesthouse yang pernah ditinggali Raja Thailand Norodom Sihanouk dibangun menjadi kamar suite. Sementara ruang makan, dulunya adalah tempat Norodom dan seorang sutradara menonton sebuah film.

Kabarnya, untuk melakukan renovasi besar-besaran dalam bidang pariwisata, pemerintah Kamboja mendapat banyak bantuan dari Jepang. Bantuan tersebut umumnya dipakai untuk membangun jalan, jembatan, dan bandara.

Lantas, apa hasil yang diperoleh pemerintah Kamboja dari "mempermak" Kota Siem Reap? Tentu saja, lonjakan wisatawan yang berbondong-bondong ke Kamboja. Saat negara ini baru saja pulih, Kamboja dikunjungi sekitar 217.000 turis.

Pada tahun 2007, angkanya melonjak menjadi 2,1 juta orang. Hampir 50 persennya berkunjung ke Angkor Wat. Saking optimisnya dengan potensi wisata negaranya, Menteri Pariwisata Kamboja Thong Khon yakin bahwa pada tahun 2010, Kamboja bisa mendatangkan 3 juta pengunjung.

Jika tertarik untuk datang ke Kamboja, harus diketahui bahwa umumnya turis datang pada high season, yaitu bulan Oktober-Maret. Pada musim ini, cuaca Kamboja memang lebih hangat dan kering. Kebanyakan turis datang dari Korea, Taiwan, Jepang, Vietnam, Thailand, serta Eropa dan Amerika yang ikut penerbangan langsung dari Singapura atau Bangkok.

Wisatawan dari berbagai benua memang harus bersiap-siap dimanjakan pemerintah Kamboja karena seperti pengakuan Thong Khon, Kamboja akan meladeni apa pun keinginan para wisatawan tersebut. "Orang Eropa senang berenang. Orang Amerika suka olahraga. Sedangkan orang Asia senang berbelanja. Kami akan menyediakan itu semua," kata Khon. (Arief)
(Koran SI/Koran SI/tty)




READ MORE - Siem Reap tujuan wisata Kamboja

Caringin Tilu, Indahnya Alam di Bandung Timur

Senin, 22 Oktober 2012

 

Caringin Tilu merupakan salah satu tempat menarik di kawasan Bandung Timur yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat luas. Pesona alamnya sungguh luar biasa untuk ukuran tempat yang boleh dibilang sangat dekat dengan Kota Bandung. Betapa tidak, kita dapat menikmati alam dan pegunungan hijau menghampar di sekeliling kita dari tempat yang hanya berjarak 5 km dari Surapati Core atau Saung Mang Ujo di Jalan Padasuka Bandung.




:: Pemandangan di sekitar Caringin Tilu ::
Anda dapat menikmati baik suasana malam atau pun pagi di Caringin Tilu. Sambil menikmati alam ataupun view Kota Bandung, Anda dapat memesan aneka makanan dan minuman yang dijajakan di warung-warung yang berderet rapi apakah mie rebus/goreng, jajanan pasar, bandrek, dan banyak lagi.

:: Banyak warung makan menjajakan aneka makanan dan minuman ::

 
Untuk menuju ke tempat ini, Anda dapat menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat karena akses jalan ke sana sudah beraspal cukup baik sebagaimana terlihat di dalam foto di atas. Dari Jalan Surapati atau Jalan PHH Mustofa, Anda masuk ke Jalan Padasuka dan ikuti jalan utama sampai kurang lebih 5 km. Selamat berpetualang di kawasan pegunungan di kawasan Bandung Timur.

 sumber : http://ayowisata.wordpress.com
READ MORE - Caringin Tilu, Indahnya Alam di Bandung Timur

Kawah Domas – Gunung Tangkuban Parahu

Sekitar 1 km sejak meninggalkan gerbang utama obyek wisata alam Gunung Tangkuban Parahu, kita akan menemui parkiran pertama yang ramai oleh pengunjung. Ya .. para pengunjung hendak mengunjungi salah satu kawah Gunung Tangkuban Parahu yaitu Kawah Domas. Untuk menuju ke sana dari tempat ini, pengunjung harus jalan kaki sejauh 1.2 km.

 
Alternatif lain adalah dengan jalan kaki yang juga sejauh 1.2 km dari pelataran parkir obyek utama Kawah Ratu. Pengalaman saya bersama Om Yosi ke Kawah Domas adalah melalui jalan ini. Jalan menuju Kawah Domas sangat sepi, jarang sekali berpapasan dengan pengunjung lain, didominasi oleh jalan menurun. Pengunjung lebih suka melalui jalur pertama karena kondisi jalan relatif lebih datar.

Tidak jauh dari pertemuan kedua jalur menuju Kawah Domas, kita akan sampai di warung yang menjual makanan, karya seni, dan juga telur ayam mentah bagi pengunjung yang ingin merebusnya di kawah. Sambil beristirahat kita dapat menikmati pemandangan kawah dari atas. Memandang jauh ke depan, kita dapat menikmati pemandangan kebuh teh di wilayah Kabupaten Subang.

Yuk kita turun ke kawah sana. Rupanya banyak pengunjung yang mendatangi kawah berasap itu. Oh ternyata sebuah kawah kecil dengan semburan air panas. Di sinilah pengunjung dapat merebus telur ayam untuk kemudian dapat dinikmati di tempat. Asik ya ..

 



Nah jika kita sudah puas bermain di tengah kawah, kita dapat beristirahat di warung-warung makan di samping kawah, tentunya sambil menikmati pemandangan alam Kawah Domas, Gunung Tangkuban Parahu.

 sumber : http://ayowisata.wordpress.com





READ MORE - Kawah Domas – Gunung Tangkuban Parahu

Pulau Kemaro, Hiasan di Tengah Sungai Musi

Minggu, 21 Oktober 2012

Pagoda sembilan tingkat, dan pagoda 5 tingkat menjadi objek wisata di Pulau Kemaro, selain bangunan Klenteng yang dominana bernuansa merah. (Rahmayulis Saleh/JIBI/Kabar24)
PALEMBANG– Jika Anda mengunjungi ibukota Sumatra Selatan, ada satu tempat yang layak dikunjungi, yaitu Pulau Kemaro.
Pulau ini terletak di tengah Sungai Musi, Palembang. Anda dapat menikmati beberapa bangunan sebagai salah satu objek wisata.
Di atas daratan yang cukup luas dan banyak tumbuh pohon-pohon besar, terdapat bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat, dengan desain warna-warni mencolok khas Tionghoa, dengan dominan warna merah dan kuning. Disampingnya ada patung Buddha.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Buddha. Di dalamnya ada makam Putri Siti Fatimah, yang tenggelam di Sungai Musi di jaman dulu.
“Makam itu sebagai simbolis saja,” kata Linda, pengurus Pulau Kemaro yang sejak 1969 sudah tinggal di pulau ini.
Untuk menuju Pulau Kemaro, Anda dapat melalui jalur sungai dengan naik perahu motor menyusuri Sungai Musi, Palembang.
Perahu motor sudah menunggu penumpang di dekat Jembatan Ampera, yang membelah Sungai Musi. Penumpang yang berjumlah 10 orang, mulai merasakan serunya berperahu mengarungi sungai yang cukup lebar, panjang, dan dalam itu.
Di sepanjang jalur sungai yang berair agak coklat ini, tampak kapal-kapal besar dan tongkang yang sedang sandar. Alat transportasi laut itu, merupakan salah satu pendukung utama perekonomian di daerah ini.
Sekitar setengah jam berperahu motor dari Jembatan Ampera, Anda dapat mencapai Pulau Kemaro.
Legenda pulau ini menceritakan seorang Putri Raja bernama Siti Fatimah yang disunting oleh seorang saudagar Tionghoa bernama Tan Bun An pada zaman kerajaan Palembang. Siti diajak ke daratan Tiongkok untuk mengunjungi mertuanya. Ketika pulang ke Palembang, dia diberi hadiah 7 guci.
Sampai di perairan Musi dekau Pulau Kemaro, Tan Bun mau melihat guci tersebut dan dia kaget karena isinya adalah sayur sawi asin, lalu langsung dibuangnya ke sungai.
Namun, saat guci terakhir hendak dibuang, guci tersebut pecah dan isinya beragam hadiah. Tan Bun pun langsung meloncat ke sungai, beserta dua pengawalnya, untuk mencari hadiah yang telah dibuangnya. Tak lama kemudian, Siti Fatimah pun ikut meloncat. Mereka semua tidak pernah lagi muncul kepermukaan karena tenggelam.
Untuk mengenang legenda tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Palembang menjadikan Pulau Kemaro sebagai salah satu objek wisata.
“Setiap tahun baru China pulau ini banyak didatangi pengunjung. Sampai penuh. Mereka melakukan kegiatan sakral seperti sembahyang,” ujar ujar Karyanto, Corporate Communications Manager Dexa Group di Palembang. Dia mengatakan sudah lima kali berkunjung ke pulau ini

 sumber : http://www.harianjogja.com
READ MORE - Pulau Kemaro, Hiasan di Tengah Sungai Musi

Taman Wisata Alam Gunung Meja

Selain Raja Ampat yang menjadi icon unggulan bagi pariwisata di Papua Barat, ada juga wisata alam Gunung Meja yang terletak di tengah-tengah kota Manokwari. Disebut sebagai Gunung Meja, karena puncak taman wisata alam tersebut terlihat datar menyerupai sebuah meja. Pemandangan datar yang dimaksudkan diperoleh dari sekumpulan pohon yang memiliki ketinggian serta tingkat kerapatan hampir sama, sehingga bila dilihat dari jarak yang cukup jauh akan terlihat seperti sebuah meja yang datar.

Selain dijadikan sebagai tempat rekreasi, taman wisata alam Gunung Meja ini juga berfungsi sebagai hutan lindung. Berbagai macam flora hutan tropis dengan bentuk yang unik siap memanjakan para pengunjung yang berada di obyek wisata tersebut. Jadi, tidak salah bila banyak wisatawan yang semakin penasaran untuk melihat kekayaan alam Gunung meja, sebab selain bisa menikmati suasana hutan yang masih asri, pengunjung juga memiliki kesempatan untuk menikmati indahnya pemandangan Kota Manokwari dari puncak ketinggian.

sumber : bisnisukm.com
READ MORE - Taman Wisata Alam Gunung Meja

Benteng Belgica



Pulau Banda Besar dilihat dari benteng Belgica


Benteng Belgica


Benteng Belgica pada awalnya adalah sebuah benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis pada abad 16 di Pulau Neira, Maluku. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Pada tanggal 9 Agustus 1662, benteng ini selesai diperbaiki dan diperbesar sehingga mampu menampung 30 – 40 serdadu yang bertugas untuk menjaga benteng tersebut.
Kemudian pada tahun 1669, benteng yang telah diperbaiki tersebut dirobohkan, dan sebagian bahan bangunannya digunakan untuk membangun kembali sebuah benteng di lokasi yang sama. Pembangunan kali ini dilaksanakan atas perintah Cornelis Speelman. Seorang insinyur bernama Adriaan Leeuw ditugaskan untuk merancang dan mengawasi pembangunan benteng yang menelan biaya sangat besar ini. Selain menelan biaya yang sangat besar (309.802,15 Gulden), perbaikan kali ini juga memakan waktu yang lama untuk meratakan bukit guna membuat pondasi benteng yaitu sekitar 19 bulan. Biaya yang besar tersebut juga disebabkan karena banyak yang dikorupsi oleh mereka yang terlibat dalam perbaikan benteng ini. Akhirnya benteng ini selesai pada tahun 1672.
Sepuluh tahun kemudian komisaris Robertus Padbrugge ditugaskan untuk memeriksa pembukuan pekerjaan tersebut, tetapi ia tidak berhasil dalam tugasnya tersebut. Hal ini dikarenakan banyak tuan tanah yang beranggapan bahwa biaya tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan hasilnya, sebuah benteng yang hebat dan mengagumkan. Karena hal tersebut, Padbrugge menghentikan penyelidikannya.
Walaupun benteng tersebut dikatakan sangat hebat dan mengagumkan, tetapi masalah bagaimana untuk mencukupi kebutuhan air dalam benteng masih juga belum terpecahkan. Setelah menimbang-nimbang apakah akan menggali sebuah sumur atau membuat sebuah bak penampungan air yang besar atau membuat empat buah bak penampungan air yang lebih kecil, akhirnya diputuskan untuk menggali sebuah sumur di dekat benteng dan menghubungkannya dengan sebuah bak penampung air berbentuk oval yang dibuat di tengah halaman dalam benteng.
Pada tahun 1795, benteng ini dipugar oleh Francois van Boeckholtz—Gubernur Banda yang terakhir. Pemugaran ini dilaksanakan juga di beberapa benteng-benteng lain sebagai persiapan untuk menghadapi serangan Inggris. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 8 Maret 1796, benteng Belgica diserang dan berhasil direbut oleh pasukan Inggris. Dengan jatuhnya benteng ini, Inggris dengan mudah dapat menguasai Banda. Pada tahun 1803 dilaporkan, setiap kali ada satu kapal yang berlabuh, diadakan upacara band militer setiap jam 5 pagi dan jam 8 malam di benteng Belgica dan Nassau. Setiap hari Kamis dan Senin dilakukan pawai militer pada jam 6.30 pagi. Pergantian jaga dilakukan setiap pagi, siang dan malam pada kedua benteng tersebut, sehingga hampir setiap jam masyarakat yang tinggal dekat kedua benteng tersebut dapat melihat parade militer dan mendengarkan musik dari band militer. Benteng Belgica telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995.
 

sumber : http://id.wikipedia.org
READ MORE - Benteng Belgica

'Ladang Rapa' Negeri Ajaib dari China

Ladang Rapa Negeri Ajaib dari China

 
Pernahkah Anda melihat film Alice in Woderland ? dimana menunjukan negeri ajaib yang begitu indah, hal ini seolah menjadi nyata jika Anda berkunjung ke ladang rapa (rapeseed) di  Luoping, Cina.

Ketakjuban ini pun diutarakan oleh fotografer Jerman Anne Berlin. Pertama kali menginjakan kaki di ladang rapa ia pun begitu tercengang melihat pemandangan tersebut sampai-sampai ia lupa mengambil foto.
"Saya tak pernah melihat sesuatu yang seperti ini. Sangat mengagumkan. Saat saya berjalan di lanskap menakjubkan ini, saya merasa seperti Alice di Negeri Ajaib", tuturnya melansir dari Yahoo! News.


Keindahan ladang rapa diwakilkan dengan dua warna yaitu kuning dan cokelat. Kuning menggambarkan ladang bungan yang membentang luas dimana disekitarnya menjulang bukit-bukit tinggi yang berwarna cokelat.

"Seperti berenang di kolam bunga kuning. Saya tak akan melupakan hari yang menyenangkan dan mengagumkan ini. Benar-benar luar biasa. Anda harus melihatnya sendiri", lanjutnya.
Kala itu, Berlin sedang melakukan tur foto di Yunnan pada bulan Maret saat mengambil gambar-gambar ini.  Karena cuaca yang kurang bersahabat, Berlin pun harus memanjat bukit untuk mendapatkan gambar yang bagus dengan didukung kamera Canon 5D Mark II, 17-40mm dan 70-200mm.
"Dua hari terakhir kami tinggal di Luoping, sekitar 200 km timur Kunming, untuk mengambil foto ladang rapa", kata dia.
"Cuacanya tidak bagus untuk mengambil foto karena berkabut. Untuk mengambil gambar ini, kami harus memanjat bukit tinggi."
(rha)
 sumber : http://www.infospesial.net
READ MORE - 'Ladang Rapa' Negeri Ajaib dari China

Pulau berhala

Sabtu, 29 September 2012


Pulau Berhala adalah sebuah pulau di Jambi, Indonesia[1]. Pulau ini merupakan pulau terluar Indonesia di Selat Malaka, Pulau yang kaya akan hutan akar bahar ini menyimpan berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) dalam radius 200 M dari bibir pantai yang tidak kurang dari 22 spesies dan jenis ikan karang dapat terlihat dari 11 spesies, bila anda menyelam kesana. Luasnya adalah 2,5 km². Berhala memiliki topografi bergunung dengan hutan lebat dan pantai yang putih bersih. Pada awal dan akhir tahun, pantai Pulau Berhala menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur. Pulau yang kaya akan hutan akar bahar ini menyimpan berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) dalam radius 200 M dari bibir pantai yang tidak kurang dari 22 spesies dan jenis ikan karang dapat terlihat dari 11 spesies, bila anda menyelam kesana.
Nama pulau Berhala ini diambil dari nama raja Jambi dahulu yaitu Datuk Paduko Berhala yang makamnya terdapat di pulau itu.
Pulau Berhala cukup unik di lihat dari namanya saja sudah memberi kesan tersendiri. Luas pulau berkisar 2,5 Hektar. Kondisi pulau sangat alami dan belum memiliki penduduk. Saat ini pulau di jaga oleh Tentara Nasional Indonesia Angakatan Laut
Saat ini sudah terdapat fasilitas berupa resort, pemancingan, wahana untuk permainan laut maupun Hotel untuk para wisatawan yang berkunjung ke sana

sumber : http://disporabudpar.jambikota.go.id
READ MORE - Pulau berhala

Gua Tiangko


Tidak jauh dari Sungai Manau Anda dapat menemukan wisata Gua Tiangko. Gua Tiangko terletak di Desa Tiangko, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Jambi atau sekitar 9 km dari Sungai Manau. 
Bukan hanya Gua Tiangko yang berada di Desa Tiangko, tetapi juga beberapa gua lainnya. Konon dahulu daerah ini dijadikan tempat tinggal manusia purba. Gua Tiangko salah satunya, gua ini dahulu di tempati oleh sekelompok manusia purba, 9000 tahun silam. Keadaan dalam gua sama seperti gua lainnya, terdapat stalaktit dan stalagmit.
Untuk sampai ke lokasi ini sama seperti menuju Sungai Manau Anda dapat menempuh dari Jambi untuk menuju Kota Bangko kemudian di lanjutkan menuju Desa Air Batu, jarak yang harus ditempuh selama perjalanan ini sekitar 330 km dalam waktu 4,5 jam. Anda dapat menggunakan mobil atau bus.
sumber :  http://disporabudpar.jambikota.go.id
READ MORE - Gua Tiangko