Pesona Unik Kelenteng Petak Sembilan


Kelenteng Petak Sembilan (Foto:Flickr)
Kelenteng Petak Sembilan (Foto:Flickr)

JAKARTA memiliki seratus lebih kelenteng. Salah satunya kelenteng tua Jin De Yuan di kawasan Pecinan Lama, Glodok, Jakarta Barat. Kelenteng ini dibangun tahun 1650 oleh seorang letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan menamakannya Koan lm Teng atau berarti Paviliun Koan lm.

Tahun 1755, kelenteng ini dipugar Kapten Oei Tjhie dan diberi nama Kim Tek Ie atau Kelenteng Kebajikan Emas. Kim Tek Ie berdiri di atas tanah seluas 3.000 meter persegi. Termasuk bara besar atau Tay Bio karena memliki beberapa bangunan. Kini kelenteng yang masih berdiri kokoh ini bernama Wihara Dharma Bhakti, namun orang lebih sering menyebutnya Petak Sembilan.

Kelenteng Petak Sembilan dikelilingi tembok. Pintu utamanya berada di selatan yang berupa gapura naga merah. Sebelah kiri gerbang ada tiga bangunan kelenteng yang berderet. Di halaman kedua terdapat kelenteng utama menghadap ke selatan berikut dua singa (Bao Gu Shi) yang konon berasal dari Provinsi Kwangtung, Tiongkok Selatan.

Gedung utama Petak Sembilan didominasi warna merah. Atap bangunannya melengkung ke atas, berhias sepasang naga. Di dalam ruangan terdapat puluhan film berukuran besar, setinggi badan orang dewasa dan ratusan lilin-lilin kecil yang menyala. Bau asap dupa bertebaran menebarkan aroma khas hingga ke luar ruangan. Di samping kiri gedung utama terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Sedangkan, di pojok kanan halaman belakang terdapat sebuah lonceng buatan tahun 1825 yang merapakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Menjelang perayaan Imlek, biasanya para petugas di kelenteng sibuk membersikan dan mengecat ulang pagar besi dengan cat warna merah. Kelenteng ini tak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Banyak pula para peziarah dan wisatawan yang datang sambil melihat aktivitas ritual pengunjung. Keindahan dan kekhasan kelenteng ini juga kerap dijadikan obyek pemotretan para penggemar fotograpi dan juga lokasi syuting video klip.

Kemeriahan menjelang Imlek sangat terasa kalau kita berada di Pasar Petak Sembilan di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Terlebih 10 hari menjelang Imlek. Banyak warga keturunan Tionghoa dari berbagai pelosok Jakarta datang ke pasar ini untuk membeli perlengkapan khas dalam merayakan datangnya Tahun Baru Cina.

Sejumlah penganan dan pernak-pernik khas Imlek laku keras. Kue keranjang berupa dodol khas China yang dibungkus daun atau plastik, banyak diburu pembeli. Apalagi penjualnya mengemas kue keranjang dengan kardus-kardsus cantik berwarna merah. Kue keranjang banyak diburu pembeli karena selain untuk dimakan sendiri dan diantar ke sanak keluarga, juga untuk sembahyang.

Aneka manisan kering seperti kana, buah plum, dan kulit jeruk yang dimaniskan juga banyak dijual di pasar ini. Ada yang belum dikemas, ada juga yang sudah dalam kemasan kardus yang disekat. Makanan yang terasa manis seperti manisan dan permen juga dicari pembeli. Masyarakat Tionghoa menganggapnya sebagai perlambang hidup yang manis. Oleh karena itu kedua camilan ringan itu kerap disuguhkan saat perayaan Imlek agar tahun baru manis.

Buah-buahan khas Imlek juga menjadi incaran pembeli, seperti jeruk, leci, dan buah plum. Aneka jeruk terutama jeruk Mandarin, Io dan juga jeruk Bali banyak diborong pembeli. Jeruk dianggap warga Tionghoa sebagai buah yang melambangkan persaudaraan dan kerukunan.

Berada di Pasar Petak Sembilan terlebih menjelang Imlek di antara kerumunan penjual dan pembeli, memberikan nuansa tersendiri. Pasar ini menghadirkan atmosfer berbeda dibandingkan pasar tradisional lain. Deretan lampion dan pernak-pernik khas Imlek berwarna merah yang dijajakan pedagang di sisi kiri-kanan jalan, seakan membawa kita berada di salah satu sudut keramaian di China.(ang)(Pasha Ernowo - Okezone)

sumber : travel.okezone.com

Comments