Leiden, Belanda; Kota Tua Yang Mengasyikan

Leiden, wilayah berpenduduk 118 ribu jiwa yang terletak di antara kota Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam, memperoleh predikat sebagai kota tahun 1266. Sesuai namanya, Leiden berasal dari kata ''leithon'' yang berarti berada pada jalur air. Kota ini dibelah oleh Sungai Rijn (Rhine) yang hulunya berpucuk di Swis melewati Jerman dan bermuara di Negeri Kincir Angin.

Di ruas Kota Leiden bagian atas, sungai itu bercabang dua yang dikenal dengan Oud Rijn dan Neeuwe Rijn yang kemudian menyatu di pusat kota. Sungai utama dan dua cabangnya bertautan dengan sungai-sungai kecil yang berupa kanal. Pada musim panas, kanal-kanal itu dipergunakan sebagai wisata air, sedangkan di musim dingin, ketika salju turun, menjadi arena skating yang sangat menarik.

Sungai tampak bersih, selain sebagai objek wisata juga menjadi habitat yang nyaman bagi itik, angsa, dan seagull. Tidak menampakkan kesan bahwa sungai itu berada di ruas muara yang kalau di negara berkembang seperti Indonesia menjadi tong sampah bagi daerah hulu.

Kota Leiden itu sangat ramah karena menyediakan jalur khusus untuk sepeda pada setiap ruas jalannya. Di setiap kantor, kampus, ruang publik, stasiun, terminal, atau mal disediakan tempat parkir memadai untuk sepeda. Commuter (penglaju) dari luar Leiden tidak perlu menggunakan mobil untuk mencapai kota tersebut. Mereka setiap hari mengayuh sepeda kemudian diparkir di stasiun, dan berganti kereta api menuju kota tujuan. Nyaman tidak stres dan lebih efisien.

Commuter dari luar Leiden biasanya memiliki dua sepeda. Satu untuk dikayuh dari rumah ke stasiun dan sebaliknya. Satu lagi dipergunakan untuk mobilitas di Leiden dan mengantar dari dan ke stasiun. Hal itulah yang dilakukan oleh para dosen di Universitas Leiden yang tinggal di Ams¬terdam, Rotterdam, Den Hagg, Naar¬den, dan Haarlem.

Pola penglaju yang demikian ini sangat memungkinkan karena kereta api sangat nyaman, terjangkau, dan tepat waktu serta banyak pilihan dengan frekuensi setiap 10 menit. Stasiun Sentral juga menyatu dengan terminal bus sehingga memberikan kemudahan dan pilihan bagi masyarakat pengguna.

Perilaku berkendaraan yang ramah lingkungan itu tampaknya bukan hanya didapati di kota kecil seperti Leiden, tetapi juga di Rotterdam dan Amsterdam, dua kota besar yang berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Leiden juga terbilang sebagai kota yang aman.

Musim dingin dengan temperatur antara 2 sampai 6 derajat celcius yang selalu disertai hujan rintik-rintik tidak membuat orang enggan berjalan kaki maupun bersepeda sebagai media utama mobilitas. Pemandangan itu berlangsung dari pagi buta sampai tengah malam. Orang-orang lalu lalang di sudut-sudut jalan kota tanpa khawatir terganggu keamananya, sekali pun ia pendatang.

Daya tarik Leiden, bukan hanya pada kondisinya yang bersih, rapi, ramah, dan aman tetapi juga kaya dengan bangunan-bangunan kuno yang masih dilestarikan. Dalam buku Newcomers in an Old City tulisan Joke Kardux dan Eduard van de Bilt (2007) disebutkan bahwa lanskap kota itu didominasi oleh semangat gereja, di antaranya adalah Pieterskerk (St Peter's) dan St Pancraskerk yang kemudian dikenal dengan nama Hooglanse Kerk. Tetenger bangunan kuno lainnya yang masih megah berdiri adalah Balai Kota. Terdapat benteng yang menyerupai kastil bernama Visburg atau de Burcht yang dibangun pada sekitar tahun 1050.

Dalam catatan, benteng di bukit kecil tersebut dimaksudkan untuk membendung luapan Sungai Rijn. Tetapi diceritakan juga kalau benteng itu dibangun sebagai pertahanan atas serangan tentara Spanyol pada masa itu. Warga Leiden sangat bangga dengan benteng tersebut. Dalam buku Panorama Leiden disebutkan bahwa kalau Anda mengunjungi kota itu tetapi tidak singgah di de Burcht, itu sama artinya Anda belum berkunjung ke Leiden.

Sungguh unik. Kalau kota-kota besar dunia berlomba membangun pencakar langit sebagai tetenger untuk melihat seantero kota misalnya Kuala Lumpur dengan Menara Kembar, Toronto dengan CN Tower, Boston dengan Hancock Tower, maka tidak demikian halnya dengan Leiden yang bangga dengan kastil yang tingginya hanya sepuluh meter di atas bukit.

Dengan berdiri di atas kastil Burcht yang merupakan satu-satunya bangunan yang berdiri sebelum Leiden menjadi kota, 40 bangunan dan objek wisata penting ko¬ta itu terlihat jelas mulai dari gedung Balai Kota, Gereja Pieterkerk, St Pancras¬kerk, Museum Windmill, Morrspoort, Academy Building sampai Hortus Botanicus.

Leiden juga dikenal sebagai city of refugees. Pada awal abad ke-17, kota itu menjadi tempat persinggahan migran dari Inggris sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Benua Amerika, Australia maupun Selandia Baru. Indikasi dari catatan sejarah tersebut bisa dilihat dari komposisi etnis penduduk yang sangat beragam.

Saturday Market yang sangat menarik perhatian turis menjajakan berbagai makanan khas dari Indonesia, Suriname, Vietnam, Turki, Maroko, China, dan tentu Inggris. Untuk migran yang disebut terakhir, ada informasi yang mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari negerinya di Inggris karena perbedaan pandangan aliran tentang agama. Dokumentasi migran Inggris yang menjelajah benua Amerika dengan kapal Mayflower dicatat dengan baik.

sumber : www.perempuan.com

Comments