Rawa Belong; Wisata Mata dan Lidah

Jumat, 12 Juni 2009

Masih ingat legenda Betawi terkenal tempo dulu, si Pitung? Lelaki sakti Robin Hood-nya Betawi ini adalah warga Rawa Belong. Wilayah ini ternyata memiliki keunikan tersendiri. Jika anda penyuka bunga atau tertarik untuk sekadar melihat-lihat aneka bunga, Rawa Belong merupakan tempat yang tepat.

Bunga bisa menterjemahkan banyak hal, seperti misalnya mawar dianggap bunganya orang berkelahiran Juni. Bunga ini melambangkan kekuatan, kecantikan, dan cinta. Bunga tulip paling cocok untuk mereka yang lahir pada bulan Juli, perlambang keberuntungan serta keterbukaan hati dan masih banyak lagi.

Di Jalan Sulaiman Rawa Belong, terdapat sebuah pasar kembang terbesar di Jakarta. Pasar ini berdiri sejak tahun 1974 dan baru diresmikan sekitar tahun 1984 oleh Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto kala itu. Di pasar ini semua transaksi yang berhubungan dengan bunga terjadi. Semua sentra bunga potong di Jakarta membeli bunga dari pasar ini. Namun jika anda ingin membeli untuk keperluan pribadi, bukan tidak boleh berbelanja di sini. Semua bisa dilayani baik partai besar bahkan satuan sekalipun.

Dibutuhkan kejelian jika anda berniat berbelanja bunga di sini. Ada beberapa variasi harga di pasar ini, di tingkat kios, harganya lebih mahal karena memang menyediakan bunga segar dan berkelas, seperti seikat lili casablanca dihargai Rp 135 ribu. Di tingkat pedagang petani, seikat besar krisan harganya mencapai Rp 150 ribu. Ada lagi tingkat pedagang “bunga ceker“ (bunga sisa pakai sebuah event dan masih segar kemudian dijual kembali). Sebagai ilustrasi, sepuluh kuntum mawar holland yang cantik bisa anda dapatkan seharga Rp 25.000 saja. Harga tersebut bukan harga mati, anda masih bisa menawarnya.

HM Aseli, salah seorang pedagang yang sudah menjual bunga di pasar ini sejak tahun 70-an, mengatakan kalau ia telah mengikuti naik turunnya bisnis ini. “Ibarat kata tidur bolak balik, celentang tengkurap sudah saya alami,“ tuturnya dalam bahasa Betawi yang kental. Bahkan semasa krismon dulu ia pernah merugi hingga 400 juta.

Lelaki yang khusus menjual bunga lili dan biasa disapa Bang Haji ini mengatakan, segala macam bunga tersedia di pasar ini. Bahkan Tulip yang nota bene bukan bunga lokalpun bisa didapat. “Tapi biasanya untuk tulip harus pesan terlebih dahulu,“ imbuhnya.

Di era 60-an pedagang bunga di pasar ini kebanyakan warga sekitar Rawabelong, seperti Sukabumi dan Kemanggisan, karena saat itu mata pencarian warga sekitar Slipi, Kota Bambu, Rawa Belong dan Sukabumi adalah sebagai petani bunga. Namun pada perkembangan selanjutnya banyak masuk pedagang bunga dari beberapa daerah di Jawa.

Transaksi di pasar ini akan mencapai puncaknya tiap Selasa Malam hingga Sabtu malam, dengan asumsi menjelang akhir minggu banyak pesta atau acara yang digelar. Pedagang yang datang juga beragam, tidak hanya dari Jakarta, bahkan juga dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Batam.

Masih di seputaran Rawa Belong juga bertebaran sentra-sentra tanaman hias. Salah satu yang terbesar terletak di ujung Jalan Salam (pertemuan Jl. Salam dan Jl. Ayub) adalah sentra tanaman hias milik Ukay Saputra. Di sentra ini terdapat ratusan varietas Aglonema, tanaman hias yang sedang jadi primadona saat ini. Ukay memang terkenal sebagai importir untuk tanaman yang dijuluki ratunya tanaman hias ini. Untuk mendapatkan varietas terbaru Aglonema, Ukay rela melakukan perburuan hingga Thailand.

Soal harga tentunya bervariasi. Satu pohon anakan Lady Valentine dihargai Rp 100 ribu dan ini adalah harga yang paling murah. Menariknya daun tanaman berwarna merah muda dan bercorak unik inilah yang kemudian menjadikannya terkenal. Beberapa varietas malah dijual dengan harga per daun. Percaya atau tidak Hot Lady dijual dengan harga Rp 5 juta per daun. Ini belum seberapa, di sentra ini ada sebuah Aglonema Hibrid yang dihargai Rp 45 juta satu potnya.

Aglonema mulai terkenal sejak tahun 2000-an, dan tren-nya terus meningkat hingga sekarang. Harganya sendiri cenderung fluktuatif tergantung kelangkaan varietasnya. Sebagai contoh, jenis Pride of Sumatra hasil silangan Greg Hambali, sempat mencapai harga Rp 275 ribu per daun. Karena jenis ini kemudian membanjiri pasar, hargaya sempat turun hingga Rp 10.000 per daun. Sekarang harganya Rp 25.000 per daun. Asal tahu saja, Pride of Sumatra ini pernah menduduki peringkat kedua kontes tanaman hias tingkat dunia, karena itu pulalah pamornya kemudian naik kembali. Di sentra ini, tak hanya Aglonema, tapi juga terdapat Euphorbia Milii, Adenium dan anggrek.

Selain terkenal dengan bunga dan tanaman hias, Rawa Belong dan sekitarnya juga cukup terkenal dengan jajanan khas, seperti Bubur Ayam Bang Tatang, Nasi Uduk Bang Udin, Ketupat Asofa, Ketupat Laksa (Jl. Asyirot) dan Mie Kondang (Srengseng, Kelapa Dua).

Ada sebuah tradisi tahunan yang terkenal di kawasan ini. Menjelang Hari Raya Imlek, mulai pertigaan Rawa Belong hingga Jl. Sulaiman (sekitar Pasar Kembang) digelar Pasar Bandeng. Di sini seluruh penjual bandeng dari berbagai penjuru Jakarta menggelar dagangannya. Bandeng yang dijualpun beratnya di atas rata-rata, berkisar dua hingga empat kilogram per ekor. Tradisi Pasar Bandeng yang sudah ada sejak tahun 70-an ini masih bisa dijumpai hingga sekarang.

Jakarta ternyata memiliki wilayah tertentu dengan keunikannya tersendiri. Mulai dari sentra bunga potong dan tanaman hias, jajanan khas hingga bandeng ukuran jumbo. Penting diingat harga yang ditawarkan relatif lebih murah ketimbang tempat lain. So, berminat memanjakan mata dan lidah anda? We’ll wait you there, girl… (ee)

sumber : perempuan.com