Kali ini saya mengajak KoKiers untuk berjalan jalan bersama melihat Kochi Castle dimana bangunan utamanya sendiri relatif tidak sebesar castle castle yang pernah saya kunjungi, tetapi seperti sebuah pepatah Kecil Itu Indah, Kecil Itu Cinta.
Kochi Castle terletak di tengah ibukota Kochi prefecture (propinsi), merupakan symbol spirit dan cultural heritage Kochi. Bangunan ini merupakan masterpiece Yamauchi Katsutoyo yang menyelesaikannya dalam 10 tahun, dengan ribuan pekerja. Ironisnya dirusak oleh Meiji reformers yang ingin menghilangkan semua symbol feodalisme pada awal era reformasi Meiji tahun 1868. Jadi selama 400 tahun Kochi Castle ini berdiri bukan dirusak oleh tentara musuh tetapi oleh kaum sipil. Duh jadi ingat anarkis di negeri kita saat terjadi kasus 1998.
Tidak seperti castle lainnya, terdapat setidaknya 2 buah patung bronze di kompleks castle ini. Yang pertama di depan Otemon, patung Itagaki Taisuke, seorang pemimpin sipil Jp yang menghendaki perubahan, terbunuh dengan sebilah pisau, satu kalimat yang diteriakkan dan terkenal hingga kini adalah: “ Itagaki may die but liberty never will!”. Patung kedua terdapat di garden tingkat dua setelah anak tangga yang cukup tinggi adalah patung istri Yamauchi Katsutoyo. Saya duga kedua patung ini dibuat setelah reformasi Meiji sekitar tahun 1871 saat castle dibuka untuk umum.
Bangunan utama castle Donjon (Ten-shu-kaku) secara keseluruhan, terdiri dari 4 tingkat, dengan tinggi bagunan 18,5 meter. Struktur bangunan telah direnovasi sesuai aslinya pada tahun 1748. Di puncak castle terdapat 4 pintu beranda yang menghadap ke empat penjuru kota, semilir angin di sana.
Garden pada tingkat ketiga dalam harmoni hamparan kerikil, batu, kayu dan aneka cemara, di sela sela pohon sakura dan pohon yang berubah warnanya saat usim gugur tiba, sangat diperhitungkan keindahan yang ditampilkan dari musim ke musim.
Teras kayu di depan Daimyo’s official meeting, tatami terhampar sebagai pengganti karpet, ruang terbuka penuh menghadap taman berpagar tembok dengan hiasan genteng serupa mengelilingi bangunan ini.
Taman gaya Jepang di depan official meeting, sepi itu indah. Sebuah hiasan dinding di pintu masuk Main hall terbuat dari kain, menggambarkan kesetiaan seorang istri menghantarkan prajurit samurai ke medan perang, pakaian perang yang dikenakan mengingatkan pada film The Last Samurai.
Melewati Main Hall, masuk ke bangunan Castle Donjon melalui bangunan penghubung berlantai kayu. Di lantai pertama didispaly miniature diorama kehidupan masyarakat Jepang pada jaman dahulu, cukup representative dan indah entah berskala ukuran berapa. Di sini saya tampilkan proses transportasi hugh stone untuk membangun castle. Dapat kita bayangkan ketika candi Borobudur dan Prambanan didirikan pada tahun 825, sekitar 500 tahun sebelum castle ini didirikan. Nenek moyang kita jauh lebih brilliant daripada orang Jp, karena batu batu penyusunnya jauh lebih besar dan perlu diangkat dengan elevasi yang begitu tinggi. Sudah sepantasnya Borobudur dan Prambanan menjadi asset heritage dunia.
Hiasan genteng di ujung bubungan atap selalu indah dan spesifik, berbeda dari castle ke castle, paduan antara ikan dan naga, sebagai symbol pemilik castle, entah apa maknanya, barangkali kokiers ada yang tahu.
Dari salah satu pintu beranda di puncak castle, terhampar gedung gedung modern bertingkat mengelilingi kompleks castle yang luas, sungguh kontras.
Tangga penghubung garden di tingkat pertama dan tingkat kedua, bukan tanpa makna dibuat seperti itu, tinggi, mudah untuk turun, tetapi menghambat pergerakan musuh untuk mencapai kediaman daimyo.
Salam dari Osaka
Penulis : Astuti - Osaka
Sumber : Kompas Community
Comments