Pantas saja bila Capri dianggap sebagai salah satu tempat tetirah terbaik di dunia. Dan tak perlu heran bila selebritis internasional menjadikan Capri sebagai salah satu tempat favorit plesirannya.
Jauh sebelum bintang-bintang Hollywood ini berkelebat di Capri, manusia-manusia superkaya dunia, sudah sering mengunjungi Capri. Tiberius, salah satu kaisar Roma, malah menjadikan Capri kantor sekaligus rumah pribadinya. Tiberius ogah tinggal di Roma, ibu kota Imperium Romawi. Dari Villa Jovis, rumah pribadinya di Capri, Tiberius memerintah Imperium Roma.
Harga makanan atau servis lainnya pun, juga cukup mahal. Tapi, itulah Capri. Meski mahal, setiap hari, pulau ini dibanjiri 5.000- an pengunjung. Musim panas, kunjungan seharinya bisa melebihi jumlah penduduk lokalnya. Dan jangan kaget jika mesti ngantre untuk beberapa fasilitas umum di pulau mungil ini.
Pulau Capri terlihat kukuh, meski kecil. Tebing karang terlihat memantulkan debur ombak, dan burung camar berseliweran mengincar ikan. Begitu Caremar, ferry kami, merapat di Marina Grande, dermaga utama pulau ini, aroma turisme begitu menyengat. Toko suvenir berjejeran, perahu-perahu – dari yang sederhana hingga termewah sekalipun – berjejalan di dermaga. Turis berseliweran di mana-mana.
Salah satu keindahan alam itu bernama Grotta Azzura. jangan kaget jika mendengar kalimat ini, karena mirip dengan salah satu judul novel almarhum Sutan Takdir Alisyabanah (STA). Betul. Tapi di pulau ini, Grotta Azzura (goa biru) bukan sebuah judul novel. Namun sebuah gua di balik tebing karang pinggir laut yang begitu menakjubkan keindahannya. Memang ada banyak gua di sekitar tebing karang pulau ini. Namun Grotta Azzura paling mempesona.
Pulau ini kecil, jadi bisa sehari saja mengelilingi semua ujungnya. Namun, ternyata kita akan memerlukan 3 hari dua malam untuk menikmatinya. Bukan apa-apa, rasanya sayang melewatkan pulau yang begitu mempesona ini sehari saja. Apalagi, jika anda tak ingin seperti turis paketan: datang, lihat lalu pergi
Salah satu yang begitu mempesona adalah rumah dokter eksentrik asal Swedia, Axel Munthe. Munthe membangun vilanya dengan mencampurkan benda-benda kuno peninggalan kaisar Tiberius ke dalam rumah mewahnya itu. Taman-taman yang indah dengan hiasan patung-patung marmer Romawi di dalamnya, serta pemandangan ke laut lepas yang begitu mempesona, menjadikan vila ini sangat istimewa.
Apalagi, hingga sekarang vila tersebut masih utuh dan terawat. Berbeda dengan vila bekas kaisar Tiberius yang tinggal puing belaka. Selain pemandangan laut yang indah, bekas vila kaisar Tiberius hanya berupa puing-puing lusuh.
Sementara kota Capri sendiri, juga unik. Memang ada jalan utama, namun tak sedikit jalan kecil yang berliku-liku. Mungkin kalau di Jakarta hanya disebut gang, karena lebarnya tak lebih satu meter. Namun malah membuat jalanan ini makin unik. Hanya mobil mungil bertenaga baterei bisa masuk. Selebihnya, ya pejalan kaki. Dan sekali lagi anda tak perlu heran jika hotel yang anda tujupun akan melalui jalan seperti gang ini. Tapi, itulah Capri. Saban hari, betapa pun mahalnya, turis terus membanjir. (rn)
Sumber : Perempuan.com/liburan.info
| AIR | VACATION | HOTEL |
Comments