Begitu tiba di lokasi, langsung saja kami menuju bunker yang telah menewaskan petugas penyelamat Merapi beberapa bulan yang lalu. Karena memang sejak lama sudah penasaran ingin melihat seperti apa rupa bunker tersebut. Bunker tersebut memang tertimbun lahar yang mengering, kecuali hanya menyisakan ruangan terbuka di depan pintu yang sengaja dibersihkan untuk mengenang relawan tanpa tanda jasa yang telah gugur.
Ketika sudah mulai lelah mengelilingi kaliadem, obrolan kami pun beralih tentang sosok Mbah Marijan sebagai ikon penunggu Merapi. Sesaat kemudian, Nur Cahyono ( 24 ) pemandu kami mengatakan,” Tempat Mbah Marijan tidak jauh dari sini kok Mas, kalau mau saya anterin,”. Tanpa berpikir panjang, ajakannya langsung kami iyakan. Rumah Mbah Marijan hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari tempat Wisata Kaliadem.
“ Waktu muda dulu saya mengelilingi Merapi dua kali dalam waktu seminggu. Tapi sekarang paling-paling hanya melingkari punggung Merapi, saya sudah tua jadi tenaga semakin berkurang,” tutur Mbah Marijan sambil melihat satu per satu tamu yang ada di depannya. Kebanggaan menjadi Abdi Dalem Keraton Yogjakarta juga menjadi filosofi hidup Mbah Marijan tersendiri, “ walaupun hanya bergaji delapan ribu rupiah per bulan, namun menjadi Abdi Dalem adalah sebuah pengabdian yang tulus terhadap Keraton, dan hal hal ini tidak bisa dinilai dengan uang semata,”.
Sayang sekali waktu kami di sana Mbah Marijan tidak bersedia di foto dengan alasan yang tidak bisa disebutkan. Selepas dari sini, kami masih berkeliling di sekitar Kaliadem, diantaranya melihat gedung pertemuan yang terlihat cukup mewah yang ada di salah satu sisi Kaliadem. Gedung ini hampir saja runtuh karena wedhus gembel Merapi pada bulan Juni 2006 kemarin, beruntung lahar Merapi hanya mengenai pagarnya.
Apalagi akses untuk menuju ke tempat ini yang relatif mudah, karena mobil bisa parkir di pinggir lokasi wisata. Jalanan yang kita lalui dari jalan raya Kaliuarng-Yogyakarta juga relatif mulus. Namun kurang lebih 5 kilometer menjelang lokasi wisata, jalanan menyempit, turun naik, sehingga kita harus waspada. Ibaratnya kalau kita mau “napak tilas’ wedhus gembel Merapi dapat kita saksikan di kaliadem.
Penulis : AMGD
Lokasi : Kepuharjo, Cangkringan, Sleman
Fotografer : AMGD
Sumber : Navigasi.net
| AIR | VACATION | HOTEL |
Comments