”Setengah pulau ini saya miliki dan tidak boleh dijual. Setengah lagi milik Pemda Sabang. Saya mendapat warisan sejak zaman Sultan Iskandar Muda,” ungkap Yahya yang menerangkan ada surat penyerahan pulau ini kepada nenek moyangnya.
Selanjutnya, masa aman pun bergulir sehingga membanjirlah turis internasional ke Aceh dan khususnya ke Sabang. Bahkan, seorang anggota pengawas perdamaian Aceh dari Belanda membangun dua bungalow yang dihibahkan kepada Yahya. ”Dia hanya minta saya merawat bungalow ini. Dia datang setahun sekali untuk menyelam. Ketika itulah dia dan keluarganya baru memakai bungalow itu,” terang Yahya dengan nada bangga.
Berwisata ke Rubiah sama dengan menikmati suasana yang tertib dan penuh kekeluargaan. Beberapa waktu lalu ketika SH tiba di pulau paling ujung barat Pulau Sumatera ini, tampak satu keluarga sedang bermain voli bersama cucunya Yahya. Maklumlah, tak ada tetangga di sana. Setiap pagi, anak dan cucu Yahya diantar ke sekolah dengan boat yang diberikan oleh lembaga swadaya masyarakat/NGO internasional. Lalu sore harinya dia dijemput setelah selesai mengaji.
Apa kelebihan Pulau Rubiah? Sama dengan Bunaken atau Nusa Penida, Rubiah memiliki taman laut yang memaksa mata tak berkedip. Melalui boat berkaca yang mengelilingi Rubiah, kita bisa menyaksikan aneka ikan tropis, terumbu karang, kerang raksasa, karang yang rusak karena tsunami, serta terumbu karang buatan yang ditanam di sekitar perairan Rubiah. Bahkan ikan hiu biasanya muncul pada bulan pertama atau kedua setiap tahun. Konon, tak semua kawasan bahari ini disapu gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.
Harga sewa boat sekitar Rp 250.000-300.000 hingga kembali ke daratan di Iboih. Jika berkelompok, tentu ongkos sewa boat ini tidak terlalu berat, sebab setiap boat bisa menampung 10 penumpang. Sepanjang perjalanan, wisatawan pasti akan terlena menyaksikan melalui kaca bening, ikan-ikan, karang yang hancur karena tsunami, serta dasar laut yang bersih dari sampah-sampah kaleng atau lainnya. Maka rasa lelah pun pasti terbuang dan larut ke dasar Taman Laut Rubiah.
Transportasi
Bagaimana menuju Pulau Rubiah? Begitu tiba di Banda Aceh, bergegaslah ke Pelabuhan Ulee Lheue. Setiap hari, dua kali feri cepat (hanya mengangkut penumpang) dan sekali feri lambat (untuk penumpang dan kendaraan roda empat) berangkat dari Banda Aceh ke Pelabuhan Balohan, Sabang. Feri cepat berangkat sekitar pukul 09.30 WIB dengan waktu tempuh sekitar satu jam, sedangkan jika dengan feri lambat, menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan jam keberangkatan 10.30 WIB.
Jika sudah di Sabang, inilah kesempatan untuk melangkah ke kilometer nol–searah ke Pantai Iboih–sebagai tanda dihitungnya jarak Indonesia. Pemerintahan Sabang menyediakan sertifikat sebagai bukti sudah pernah ke kilometer nol, sebagaimana lagu dari Sabang sampai ke Merauke.
Penulis : Murizal Hamzah
Sumber : Sinar Harapan
Foto : http://id.ngobrolaja.com, http://utamiutami.multiply.com
| AIR | VACATION | HOTEL |
Comments