Kochi Castle: Kecil itu Indah

Rabu, 03 Juni 2009

Tidak lengkap rasanya mengunjungi suatu daerah di Jepang tanpa melihat bangunan castle, temple atau shirein di daerah tersebut. Bangunan bersejarah tersebut terasa sangat mengagumkan karena terawat dengan baik. Tipikal arsitektur castle di Jepang hampir selalu sama pada era tertentu, mulai dari bagian luar dimana terdapat kanal yang mengelilingi, tembok batu yang kokoh, pintu kayu yang amat tebal, taman yang mengelilingi kompleks istana dan bangunan utama itu sendiri.

Kali ini saya mengajak KoKiers untuk berjalan jalan bersama melihat Kochi Castle dimana bangunan utamanya sendiri relatif tidak sebesar castle castle yang pernah saya kunjungi, tetapi seperti sebuah pepatah Kecil Itu Indah, Kecil Itu Cinta.

Kochi Castle terletak di tengah ibukota Kochi prefecture (propinsi), merupakan symbol spirit dan cultural heritage Kochi. Bangunan ini merupakan masterpiece Yamauchi Katsutoyo yang menyelesaikannya dalam 10 tahun, dengan ribuan pekerja. Ironisnya dirusak oleh Meiji reformers yang ingin menghilangkan semua symbol feodalisme pada awal era reformasi Meiji tahun 1868. Jadi selama 400 tahun Kochi Castle ini berdiri bukan dirusak oleh tentara musuh tetapi oleh kaum sipil. Duh jadi ingat anarkis di negeri kita saat terjadi kasus 1998.

Sebelum masuk gerbang utama yang biasa disebut Otemon, terdapat kanal kecil selebar kira kira 10 meter mengelilinginya, dimana kura kura kecil dan ikan mas sebesar betis berenang bebas, airnya berwarna hijau, terdapat aerator berupa air muncrat yang menyirkulasi agar ikan ikan mendapat cukup oksigen. Gerbang terbuat dari kayu yang tebal dan kokoh dengan hiasan lempeng baja, batu batu besar tertata rapi, kuat dan kokoh tanpa semen, digunakan untuk menahan serangan musuh.

Tidak seperti castle lainnya, terdapat setidaknya 2 buah patung bronze di kompleks castle ini. Yang pertama di depan Otemon, patung Itagaki Taisuke, seorang pemimpin sipil Jp yang menghendaki perubahan, terbunuh dengan sebilah pisau, satu kalimat yang diteriakkan dan terkenal hingga kini adalah: “ Itagaki may die but liberty never will!”. Patung kedua terdapat di garden tingkat dua setelah anak tangga yang cukup tinggi adalah patung istri Yamauchi Katsutoyo. Saya duga kedua patung ini dibuat setelah reformasi Meiji sekitar tahun 1871 saat castle dibuka untuk umum.

Sedang dilakukan renovasi dinding batu, di halaman garden tingkat kedua ini, lagi lagi mengingatkanku adakah hal yang sama dilakukan pada peninggalan sejarah di negeri sendiri, ataukah kalah dengan anggaran anggaran lainnya?

Bangunan utama castle Donjon (Ten-shu-kaku) secara keseluruhan, terdiri dari 4 tingkat, dengan tinggi bagunan 18,5 meter. Struktur bangunan telah direnovasi sesuai aslinya pada tahun 1748. Di puncak castle terdapat 4 pintu beranda yang menghadap ke empat penjuru kota, semilir angin di sana.

Garden pada tingkat ketiga dalam harmoni hamparan kerikil, batu, kayu dan aneka cemara, di sela sela pohon sakura dan pohon yang berubah warnanya saat usim gugur tiba, sangat diperhitungkan keindahan yang ditampilkan dari musim ke musim.

Teras kayu di depan Daimyo’s official meeting, tatami terhampar sebagai pengganti karpet, ruang terbuka penuh menghadap taman berpagar tembok dengan hiasan genteng serupa mengelilingi bangunan ini.

Official meeting room, dimana daimyo duduk pada level lantai yang sedikit lebih tinggi, di belakang dinding berhias ornament keemasan ini terdapat hidden room, dimana samurai pengawal duduk mendengarkan percakapan daimyo dengan tamunya, sekiranya membahayakan mereka akan berhamburan guna menyelamatkan tuannya dari usaha pembunuhan.

Taman gaya Jepang di depan official meeting, sepi itu indah. Sebuah hiasan dinding di pintu masuk Main hall terbuat dari kain, menggambarkan kesetiaan seorang istri menghantarkan prajurit samurai ke medan perang, pakaian perang yang dikenakan mengingatkan pada film The Last Samurai.

Melewati Main Hall, masuk ke bangunan Castle Donjon melalui bangunan penghubung berlantai kayu. Di lantai pertama didispaly miniature diorama kehidupan masyarakat Jepang pada jaman dahulu, cukup representative dan indah entah berskala ukuran berapa. Di sini saya tampilkan proses transportasi hugh stone untuk membangun castle. Dapat kita bayangkan ketika candi Borobudur dan Prambanan didirikan pada tahun 825, sekitar 500 tahun sebelum castle ini didirikan. Nenek moyang kita jauh lebih brilliant daripada orang Jp, karena batu batu penyusunnya jauh lebih besar dan perlu diangkat dengan elevasi yang begitu tinggi. Sudah sepantasnya Borobudur dan Prambanan menjadi asset heritage dunia.

Proses pengerjaan kayu sebagai salah satu bagian utama bangunan, kayu yang besar, kuat dan kokoh entah tahan diterpa jaman hingga berapa lama.

Hiasan genteng di ujung bubungan atap selalu indah dan spesifik, berbeda dari castle ke castle, paduan antara ikan dan naga, sebagai symbol pemilik castle, entah apa maknanya, barangkali kokiers ada yang tahu.

Dari salah satu pintu beranda di puncak castle, terhampar gedung gedung modern bertingkat mengelilingi kompleks castle yang luas, sungguh kontras.

Tangga penghubung garden di tingkat pertama dan tingkat kedua, bukan tanpa makna dibuat seperti itu, tinggi, mudah untuk turun, tetapi menghambat pergerakan musuh untuk mencapai kediaman daimyo.

Kembali menuruni anak tangga, terhampar luas halaman Garden di tingkat pertama, selain Otemon, di halaman kanan terdapat taman yang luas di bawah kerindangan pohon tinggi, terdapat bangku bangku kayu tempat melepas lelah atau sekedar melamun. Taman terbuka yang mudah diakses ini menghadap kanal di tengah kota, menjadi tempat bermain anak anak. Ketika itu kulihat mereka melemparkan sepeda sepeda kecilnya begitu saja, bermain selepetan dan bermain umbul, membuatku tersenyum, anak anak sama saja di seluruh dunia, hanya tingkat kehidupan negeri yang lebih baik saja yang membedakannya.

Salam dari Osaka

Penulis : Astuti - Osaka
Sumber : Kompas Community